Dongkrak Komoditas Furniture, Misi Dagang Dengan AS Perlu Digenjot

12
Tribunnews.com

JAKARTA-Bank Indonesia menyarankan pemerintah meningkatkan perdagangan bilateral dengan Amerika Serikat agar dapat mensubstitusi komoditas ekspor yang selama ini dipasok China. Dengan cara itu, Indonesia dapat mengeruk hasil positif dari perang dagang antara dua negara raksasa ekonomi dunia itu.
“Caranya dengan lebih banyak mengirim misi dagang ke AS untuk bisa menjual komoditas-komoditas kita ke sana,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Gedung DPR Jakarta, Senin, (8/7/2019).

Perry menambahkan untuk mempererat hubungan bilateral dengan AS, Indonesia dapat mengganti pasokan impornya dari negara lain ke AS, seperti untuk komoditas kedelai maupun katun. “Untuk komoditas itu bisa kita impor dari AS supaya kita selanjutnya bisa mengekspor ke AS khususnya garmen, furnitur, elektronik, dan sejumlah mesin serta peralatan tertentu,” ujar Perry.

Perry mengingatkan perang dagang, dalam hal ini yang terjadi antara AS dan China tidak selalu memberikan imbas negatif, namun juga dapat memberikan dampak positif bagi negara-negara yang terlibat dalam rantai perdagangan global.

Dampak perang dagang antara AS dan China, ujar Perry, memang membuat kinerja ekspor sejumlah negara mengalami perlambatan termasuk Indonesia. Namun, Indonesia bisa mencontoh Vietnam yang suskses mengeruk hasil positif dari sengketa antara China dan AS. Hal itu karena Vietnam dapat menggantikan komoditas ekspor dari China yang biasa diekspor ke AS.

“Pertumbuhan ekonomi AS ada kecenderungan menurun, sehingga permintaan barang-barang ekspor, tidak hanya ke Indonesia, tetapi dari seluruh negara memang menurun. Kecuali sejumlah negara, seperti Vietnam karena dapat memenuhi yang dulu dipasok Cina ke AS,” ujarnya.

Oleh karena itu, di saat seperti ini, strategi perdagangan bilateral lebih efektif dibandingkan perdagangan multilateral. Perry menyarankan pemerintah lebih intensif mendelegasikan misi perdagangan ke AS.

Hingga Mei 2019, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus 0,21 miliar dolar AS. Angka itu membaik dari kondisi April 2019 yang mencatat defisit 2,28 miliar dolar AS. Namun, perbaikan neraca perdagangan tersebut tidak cukup untuk memperbaiki secara signifikan neraca transaksi berjalan. Di kuartal II 2019, neraca transaksi berjalan diperkirakan defisit dua persen hingga tiga persen Produk Domestik Bruto (PDB).