DPK Perbankan Juli 2016 Mencapai Rp Rp4.471,9 Triliun

87
ilustrasi

JAKARTA-Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Juli 2016 mencapai Rp4.471,9 triliun, atau tumbuh sebesar 6,8% (yoy) meningkat dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,5% (yoy).

Direktur Eksekutif  Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara mengatakan program pengampunan pajak (tax amnesty) ditengarai mendorong laju pertumbuhan DPK tersebut. Selain itu jelasnya, meningkatnya DPK terutama ditopang oleh meningkatnya pertumbuhan giro dan deposito yang bulan sebelumnya mengalami perlambatan. “Disisi lain, tabungan yang mulai tumbuh sejak pertengahan tahun 2015 menunjukkan perlambatan pada Juli 2016 yang tumbuh sebesar 12,8% (yoy),” ujarnya.

Menurutnya, pertumbuhan kredit perbankan yang masih terbatas berkontribusi pada melambatnya pertumbuhan uang beredar pada Juli 2016. Kredit yang disalurkan oleh perbankan pada Juli 2016 tercatat sebesar Rp4.168,4 triliun, atau tumbuh sebesar 7,7% (yoy) lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 8,2% (yoy). “Permintaan kredit mengalami perlambatan setelah sebelumnya mengalami akselerasi menjelang Idul Fitri. Perlambatan pertumbuhan kredit terjadi pada seluruh golongan debitur,” imbuhnya.

Berdasarkan jenis penggunaan, perlambatan kredit terjadi pada kredit modal kerja (KMK) dan kredit investasi (KI). KMK dan KI masing-masing tercatat sebesar Rp1.932,3 triliun dan Rp1.049,6 triliun atau tumbuh sebesar 5,8% (yoy) dan 10,9% (yoy), lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,8% (yoy) dan 12,1% (yoy).  “Adapun sektor yang mengalami perlambatan dalam bentuk KMK dan KI yaitu sektor industri pengolahan dan konstruksi,” tuturnya.

Dia melanjutkan, pertumbuhan kredit yang disalurkan kepada sektor Industri pengolahan untuk jenis penggunaan KMK dan KI masing- masing tumbuh melambat dari 2,7% (yoy) dan 11,2% (yoy) pada Juni 2016 menjadi 2,3% (yoy) dan 9,7% (yoy) pada Juli 2016.

Selain itu, penyaluran kredit konstruksi untuk jenis KMK dan investasi juga tumbuh melambat menjadi sebesar 16,8% (yoy) dan 15,4% (yoy) pada Juli 2016, lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 18,2% (yoy) dan 18,1% (yoy). “Pertumbuhan kredit yang masih terbatas juga terjadi pada kredit yang disalurkan bank umum untuk sektor UMKM,” urainya.
Posisi kredit UMKM yang disalurkan bank umum pada Juli 2016 tercatat sebesar Rp765,1 triliun atau tumbuh sebesar 8,0% (yoy), lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 9,0% (yoy).

Berdasarkan skala usahanya, pertumbuhan kredit untuk skala usaha mikro dan menengah tumbuh melambat dari 16,1% (yoy) dan 2,8% (yoy) menjadi 14,4% (yoy) dan 1,6% (yoy) pada Juli 2016. Sementara itu, kredit UMKM untuk skala usaha kecil tumbuh stabil sebesar 14,3% (yoy) pada Juli 2016.

Sejalan dengan pertumbuhan kredit UMKM, pertumbuhan kredit pada sektor properti juga mengalami perlambatan. Posisi kredit properti pada Juli 2016 tercatat sebesar Rp663,1 triliun atau tumbuh sebesar 12,1% (yoy), lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 13,5% (yoy). Perlambatan tersebut terjadi pada kredit KPR dan KPA, konstruksi, dan real estate yang masing-masing tumbuh dari 8,0% (yoy), 17,9% (yoy), dan 25,1% (yoy) menjadi 7,4% (yoy), 15,9% (yoy), dan 21,5% (yoy) pada Juli 2016.

Lebih lanjut dia mengatakan penurunan suku bunga kredit perbankan masih berlanjut pada Juli 2016 sejalan dengan pelonggaran kebijakan moneter. Sejak awal 2016 suku bunga perbankan terus mengalami penurunan secara bertahap.
Pada Juli 2016 suku bunga kredit4 dan simpanan berjangka bergerak turun. Suku bunga kredit mencapai 13,36% pada Juli 2016, lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 13,38%. Selain itu, suku bunga simpanan berjangka tenor 1,3, 6, 12 dan 24 bulan turun dari 6,80%, 7,00%, 7,75%, 7,81%, dan 9,16% pada Juni 2016 menjadi 6,66%, 6,98%, 7,53%, 7,71%, dan 9,07%.