Indonesia Incar Perdagangan dengan Negara Islam

38

JAKARTA-Pemerintah Indonesia berpartisipasi pada  pameran dagang negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) ke-14, yang berlangsung pada 28 Oktober-1 November 2013, di Tehran Permanent International Fairground, Teheran, Iran. Partisipasi Indonesia ini dimaksudkan untuk meningkatkan kehadiran Indonesia di pasar nontradisional negara-negara anggota  OKI,sekaligus memperbaiki neraca perdagangan bilateral dengan Iran.

Demikian diungkapkan Direktur Pengembangan Promosi dan Citra, Kementerian Perdagangan Pradnyawati. “Terdapat beberapa masalah yang harus diatasi dalam meningkatkan ekspor nonmigas ke negara- negara anggota OKI, diantaranya masalah transportasi dan belum dikenalnya produk Indonesia di negara-negara tersebut,” kata dia.

Selain itu, lanjutnya, bagi negara-negara tersebut lebih mudah mendatangkan produk hasil industri dari Eropa karena lokasinya yang relatif lebih dekat dan produknya telah lama dikenal.Kemendag memandang penting peningkatan kerja sama di bidang ekonomi dengan negara-negara anggota OKI. “Hal ini dikarenakan ekspor Indonesia ke 57 negara anggota tersebut hanya bernilai 10% dari total ekspor Indonesia. Padahal, Indonesia masih memiliki potensi cukup besar untu k meningkatkan volume perdagangan dengan negara-negara tersebut,”urai Pradnyawati.

Pameran dagang negara anggota OKI ini diadakan setiap dua tahun sekali dan tahun ini peserta pameran dagang tersebut mencapai 35 negara anggota.Paviliun Indonesia bertemakan “Trade with Remarkable Indonesia” dibangun di atas lahan seluas 111 m2dengan desain khusus yang menampilkan produk-produk antara lain bubuk kakao, kertas, perhiasan, bahan-bahan bangunan, hasil laut, produk-produk interior, spa, makanan dan minuman, sepatu, kacang-kacangan, dan garmen. Untuk memaksimalkan upaya promosi ke pasar Iran, Kemendag juga akanmenyelenggarakan Business Forum pada 30 Oktober 2013 di Kantor Iran Chamber of Commerce Industries and Mines, Teheran, yang akan dilanjutkan dengan kegiatan one-on-one Business Matching antara perusahaan Indonesia dengan pengusaha Iran.

Sementara untuk hubungan perdagangan bilateral dengan Iran, ekspor Indonesia dalam lima tahun terakhir mengalami tren negatif sebesar 2,94%. Hal ini cukup mengkhawatirkan karena Iran memiliki potensi yang besar dengan pendapatan per kapita dan tingkat konsumsi penduduknya yang cukup tinggi meski mengalami embargo ekonomi. “Realisasi perdagangan Indonesia dengan Iran masih terkendala oleh sanksi yang diberikan dunia internasional terhadap negara Timur Tengah ini. Kendalanya masih dalam sistem pembayaran karena adanya sanksi ekonomi,”tambah Pradnyawati.

Menurut Pradnyawati,permasalahan sistem pembayaran ini mesti segera dicarikan  solusinya sebab perdagangan antara Iran dengan negara tetangga lain seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand tetap berjalan.

Iran merupakan pasar yang menarik dan membutuhkan banyak produk Indonesia seperti produk consumer goods. Total perdagangan Indonesia dengan Iran pada selama lima tahun terakhir terus mengalami peningkatan, terutama pada sektor impor sebesar USD 773,5 juta di tahun 2012. Hal ini kurang diimbangi oleh sektor ekspor yang hanya bernilai USD 482,7juta sehingga pada tahun 2012 Indonesia mengalami defisit sebesar USD 290,8 juta.

Sementara dengan Iran, produk-prduk yang diimpor oleh Indonesia yaitu minyak mentah dan kacang-kacangan. Sedangkan produk-produk ekspor Indonesia ke Iran meliputi minyak kelapa sawit, benang, bahan baku tekstil, ban, suku cadang mobil, karet,bubuk coklat, kopi, karton, dan kayu.