Intervensi BI Menambah Sentimen Negatif

27

JAKARTA- Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai langkah Bank Indonesia (BI) membiarkan rupiah terdepresiasi sangat tepat. Sebab, intervensi terus menerus yang dilakukan bank sentral justru menambah sentimen negatif di pasar uang.  “Kalau BI mati-matian berjuang mempertahankan capital outflow dengan mengorbankan cadangan devisa demi mendapatkan capital inflow percuma saja. Pasalnya, capital inflow itu hot money semua. Dana yang masuk ini sama sekali tidak berdampak pada sektor rill,” jelas dia di Jakarta, Jumat (19/7).

Menurut dia, mempertahankan capital outflow dengan biaya yang sangat mahal beresiko bagi cadangan devisa. Apalagi saat ini, posisi cadangan devisa terus tergerus. “Jadi, biarkan rupiah melemah.Yang harus dilakukan BI, kordinasi dengan sektor fiskal,” kata dia.

Sejauh ini ujar dia, BI sudah melakukan langkah darurat dengan menaikan BI rate naik hingga 6,5 bps. Ini langkah maksimal dan terakhir BI sebagai bentuk kontribusi BI untuk mencegah capital outflow. “6,5 point ini sudah cukup. Kalaupun kenaikan BI rate ini belum banyak berdampak, saya kira itu langkah darurat yang dilakukan bank sentral. Karena itu, BI rate tidak perlu dinaikan lagi,” jelas dia.

Dia menejaskan, pemerintah harus melakukan perbaikan secara struktural terhadap ekonomi Indonesia. Sehingga penguatan rupiah dikontribusi dari kondisi ekonomi yang bagus. “Saya melihat, pelemahan rupiah karena bobroknya kondisi fiskal kita. Makanya, obatnya harus perbaikan dari sisi fundamental ekonomi. BI sudah mengeluarkan amunisi yang dimiliki. Sekarang, bolanya berpindah ke sektor fiskal,” imbuh dia.

Untuk itu kata dia, reformasi ekonomi secara fundamental di sektor fiskal supaya bisa menjadi obat penawar bagi rupiah. Reformasi ekonomi diyakini memperkuat fundamental ekonomi.  “Kalau obat penawar semua bersumber dari BI justru akan berdampak negatif. Kalau BI menaikan BI rate lagi maka semakin kacau dan percuma. Dan pasti sektor rill semakin terpuruk,” jelas dia.

Untuk itu kata dia, penyelesaian determinant harus dari sisi fiskal. Bagaimana sektor fiskal harus berbenah. “Ada tiga point yang harus dilakukan yaitu mengerem laju defisit perdagangan, inflasi dan pertumbuhan ekonomi,” tutup dia.