Kebijakan Moneter AS Warning Bagi Mata Uang Asia

29

JAKARTA-Ruang mata uang asing Asia jauh lebih berhati-hati terkait pelonggaran kebijakan moneter daripada ruang mata uang dolar AS.

“Dengan kebuntuan dalam pembicaraan dagang Cina-AS, ada kemungkinan lebih besar Bank Sentral AS menurunkan suku bunganya beberapa kali,” ujar Eugene Leow, Rates Strategist, DBS Group Research.

Menurutnya, nilai tukar dolar AS memperhitungkan hampir empat kali pemotongan dalam dua tahun ke depan.

“Sejauh yang kami lacak, ini merupakan yang paling agresif di perekonomian,” terangnya.

Secara komparatif, kurva EUR dan JPY hanya menunjukkan penurunan moderat tarif tersirat, tetapi itu mungkin karena fakta bahwa tingkat kebijakan sudah negatif. Oleh karena itu, kelonggaran untuk memangkas suku bunga lebih terbatas jika dibandingkan dengan di AS meskipun data di Zona Eropa dan Jepang kurang mendukung.

Dia menjelaskan, nilai tukar tersirat di seantero Asia harus jauh lebih rendah selama periode sama. Namun kenyataannya tidak demikian.

“Yang pasti, pasar mengindikasikan nilai tukar tersirat lebih rendah seperti di Singapura, Hongkong dan Korea Selatan, tetapi makna perubahan jauh lebih kecil daripada AS,” imbuhnya.

Untuk wilayah lain di Asia, beberapa pelonggaran diperhitungkan terjadi dalam tahun ini, tetapi sebagian besar akan diimbangi dengan pengetatan kebijakan pada tahun berikut.

Beberapa alasan bisa menjelaskan mengapa nilai tukar di Asia enggan turun.

Pertama, pelaku pasar (dan pembuat kebijakan) mungkin tidak sepakat dengan tingkat nilai tukar dolar AS dan mungkin ingin menunggu Bank Sentral AS menurunkan suku bunganya sebelum mengambil tindakan.

Kedua, nilai tukar forward lebih tinggi daripada nilai tukar spot di Asia mungkin disebabkan oleh kekhawatiran akan kekuatan dolar AS. Jika sentimen memburuk dan dolar AS menguat, ruang bagi bank sentral Asia untuk melonggarkan kebijakan juga akan dibatasi.