Kenaikan BBM Bisa “Paksa” BI rate

54

Jakarta—Kenaikan harga BBM bersubsidi bisa memaksa Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuannya (BI Rate) sekitar 100-125 basis poin. Namun sisi positifnya, rupiah dapat menguat seperti 2009 hingga pertengahan 2011, lantara capital inflow yang cukup deras. “Faktor penentu rupiah bisa menguat adalah seberapa besar intervensi dari Bank Indonesia,” kata Kepala Ekonom Bank Danamon, Anton Gunawan di Jakarta, Rabu (31/10)
Lebih jauh kata Anton, kenaikan BBM bersubsidi diprediksi juga dapat menggerus daya beli masyarakat. Akibatnya, inflasi dapat mencapai kisaran 9 %, jauh dari prediksi pemerintah sebesar 4,5 %. “Kalau BBM naik Rp1.500 per liter kita perkirakan tambahan inflasi naik tiga %, artinya bisa mencapai 9 %,” tambahnya
Menurut Anton, angka tersebut diperkirakan jika ada kenaikan BBM dan didukung oleh melonjaknya harga minyak mentah mencapai USD120 per barel. “Menurut perhitungan kalau harga minyak sentuh USD115-USD120 per barrel itu (pemerintah) bisa menaikkan harga BBM,” jelas dia.
Namun demikian kata Anton, tanpa kenaikan BBM bersubsidi, ekonomi Indonesia diperkirakan masih akan tumbuh 6,2-6,3 %, dengan inflasi 6 % (tanpa kenaikan harga BBM), BI rate mungkin naik sekitar 25 bps. “Current account deficit cenderung masih bersifat produktif karena pengaruh impor capital goods,” imbuhnya
Ditempat terpisah, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang PS Brodjonegoro juga memprediksi tidak akan terjadi deflasi pada Oktober 2012, meskipun inflasi yang terjadi pada September hanya 0,01 %. Inflasi diprediksi berada di kisaran 0,1-0,2 %. “Itu bukan bulannya deflasi sekarang. Deflasi itu Februari, Maret, April-lah periodenya,” ujarnya
Malah Bambang memprediksi inflasi Oktober paling tinggi akan berada di kisaran 0,2 %. “Paling tinggi 0,2 %,” tambah dia.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka inflasi pada September 2012 berada pada kisaran 0,01 %. Angka tersebut, lebih rendah ketimbang inflasi Agustus 2012 sebesar 0,95 %. Kepala BPS Suryamin mengungkapkan, inflasi tahun kalender 2012 berada di kisaran 3,49 %.
Sementara, secara year on year (yoy) inflasi berada di kisaran 4,31 %, dengan inflasi inti 0,34 %. Suryamin menambahkan, melandainya inflasi karena harga-harga sehabis Lebaran menurun. Begitu juga dengan transportasi dan bahan makanan.
Menurut catatan BPS, dari 66 kota IHK ada 21 kota mengalami inflasi dan 45 kota mengalami deflasi. Di mana inflasi tinggi di Pangkal Pinang 0,74 % dan Padang 0,54 %. Suryamin mengatakan, deflasi banyak terjadi dan tertinggi di Singkawang dengan 2,18 % dan Palu sebesar 2%. **