Komoditas Pangan Dorong Inflasi Maret

76
photo dok antara

JAKARTA-Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Maret 2016 mencatat inflasi sebesar 0,19% (mtm), lebih rendah dari perkiraan Bank Indonesia (BI). Inflasi IHK tersebut terutama disumbang oleh inflasi komponen bahan makanan bergejolak (volatile foods). “Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara year to date (ytd) dan tahunan (yoy) masing-masing mencapai 0,62% (ytd) dan 4,45% (yoy), serta berada dalam kisaran sasaran inflasi BI, yaitu sebesar 4%±1% (yoy),” ujar Direktur Departemen Komunikasi BI, Arbonas Hutabarat di Jakarta, Jumat (1/4).

Menurutnya, inflasi volatile foods (VF) pada Maret 2016 mencapai 0,75% (mtm) atau 9,59% (yoy). Inflasi VF tersebut bersumber dari inflasi harga komoditas bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit. “Kenaikan harga beberapa komoditas tersebut jauh lebih tinggi dari penurunan harga beras akibat mulai masuknya masa panen,” terangnya.

Dia menjelaskan, deflasi beras diperkirakan masih berlanjut ke bulan berikutnya. Di sisi lain, kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami deflasi bulan ini sebesar 0,35% (mtm) atau secara tahunan mengalami inflasi sebesar 2,76% (yoy). “Deflasi pada bulan Maret tersebut terutama bersumber dari penurunan tarif listrik, tarif angkutan udara dan bensin nonsubsidi,” imbuhnya.

Pertamax dan Pertalite, yang merupakan bensin nonsubsidi, mengalami tiga kali penurunan selama bulan Maret dengan total penurunan masing-masing sebesar Rp600,-/liter. Sementara itu, inflasi inti masih tergolong rendah dan tercatat sebesar 0,21% (mtm) atau 3,50% (yoy). Rendahnya inflasi inti tersebut didorong oleh terjaganya ekspektasi inflasi dan masih terbatasnya peningkatan permintaan domestik.  “Ke depan, inflasi diperkirakan akan berada pada sasaran inflasi 2016, yaitu 4%±1% (yoy). Koordinasi kebijakan Pemerintah dan BI dalam mengendalikan inflasi akan terus diperkuat untuk mengantisipasi kemungkinan tekanan inflasi kelompok volatile foods,” imbuhnya.