Masyarakat Hidupkan Lagi Budaya ‘Sapa Aruh’

37
Peringatan Hari Lahir Pancasila yang diselenggarakan Forum Lintas Iman (FLI), di Gunung Kidul, Rabu (31/5)

WONOSARI-Keragu-raguan dan menguji ideologi Pancasila dan mencoba dengan ideologi baru dinilai merupakan kerjaan yang sia-sia. Pancasila telah teruji melindungi segala perbedaan yang ada di tengah masyarakat Indonesia dan itu telah terbukti dalam perjalanan sejarah kemerdekaan Indonesia. Dengan menjadi dasar negara, Pancasila akan tumbuhkembang dalam lintas generasi bangsa sebagai dasar pemikiran, sikap, perkataan dan perbuatan dalam merawat kehidupan damai Indonesia.

Oleh karena itu, untuk menghilangkan keragu-raguan atas ideologi Pancasila, masyarakat Gunung Kidul, Yogyakarta menghidupkan lagi budaya “sapa aruh” (Saling Menyapa) untuk meningkatkan kepedulian antar warga masyarakat tanpa harus mempersoalkan perbedaan.

Budaya ini diharapkan dapat menghilangkan sekat-sekat solidaritas yang selama ini terhambat oleh pemikiran sempit warga masyarakat atas isu perbedaan keyakinan.

Penegasan ini merupakan kesimpulan dari sarasehan kebangsaan Forum Lintas Iman (FLI)  yang diadakan untuk memperingati lahirnya Pancasila 1 Juni di Gunungkidul, Yogyakarta, Rabu (31/5).

Selain sarasehan, FLI juga menggelar  serangkaian kegiatan doa bersama dan tumpengan yang berpusat di halaman gedung DPRD Gunungkidul.

Acara yang diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Garuda Pancasila dan pembacaan Ikrar Pancasila dihadiri Kabag Bimas Polres Gunungkidul AKP Ahmad Fauzi dan enam tokoh agama dan kepercayaan di Gunungkidul yakni Ustadz Yudi Rahmanto, Pendeta Dwi Wahyu Prasetyo, Purwanto perwakilan umat Hindu, Wasiran mewakili umat Katolik, Sugeng Riyanto mewakili Umat Budha, dan Dono Tiwokromo mewakili penghayat kepercayaan.

“Peringatan hari lahir pancasila menjadi momentum pentingnya hidup bernegara anak bangsa yang akhir-akhir mulai kendor karena masifnya gerakan rasis dan intolera. Akhir-akhir ini kehidupan bangsa kita menjadi terkoyak dengan munculnya gerakan rasis dan intoleran yang merusak tatanan persatuan nasional. Kami ingin melalui kegiatan ini dapat memperkokoh kembali semangat persaudaraan dan persatuan “,  jelas Aminudin Aziz, Koordinator FLI Gunung Kidul.

Aziz juga mengingatkan, keberagaman yang ada ditengah masyarakat seharusnya tidak menjadi potensi perpecahan, tetapi justru sebagai kekayaaan dam kekuatan besar bagi Indonesia yang harus dirawat setiap generasi. FLI mengajak semua pihak meneguhkan kembali Pancasila sebagai dasar berkehidupan bersama di Indonesia.

“Meragukan dan menguji pancasila hanya akan menjadi kerjaan yang hanya sia-sia. 1 Juni 1945 sudah selesai mendebatkan pancasila. Tentu yang tidak sepakat pancasila boleh kabur dan silahkan meninggalkan Indonesia,” tandas tokoh muda NU itu.

Sementara itu, FX Endro Tri Guntoro aktivis FLI menyatakan,  Pancasila tidak perlu lagi diuji atau diragukan lagi. Pasalnya, Pancasila sudah final sebagai rumusan dalam mengikat segala bentuk perbedaan yang ada, baik suku, golongan dan adat budaya, maupun perbedaan agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia.

“Sejak Soekarno dan para pendiri bangsa meyakini Pancasila dengan rumusan lima sila sebagai pokok dasar memulai negara ini, tidak ada alasan bagi pemerintah pusat dan daerah memberi ruang gerak kelompok yang ingin mencoba-coba ideologi baru dan merongrong Pancasila. Lahirnya Pancasila membuktikan Indonesia ini tidak dibangun azaz tunggal agama atau kepercayaan tertentu. Tetapi Indonesia dibangun justru atas azaz perbedaan dan keberagaman yang menjadi satu kekutan. Jadi Pancasila sudah selesai untuk diperdebatkan sejak 1 Juni 1945. Ini perlu ditanamkan pada generasi muda,” tandas Endro.

Sarasahan kebangsaan dipandu Pendeta Wahyu Dwi Prasetyo mengupas budaya “sapa aruh” sebagian jawaban menjawab gejala lunturnya praktik kehidupan bermasyarakat berdasarkan Pancasila.  Terkait dengan digiatkan kembali budaya “sapa aruh”, Sidik Triyono dari GP Ansor NU, menilai langkah ini merupakan peringatan kelahiran Pancasila  merupakan momentum yang tepat dan sekaligus ebagai tonggak mengingatkan kembali kesepakatan yang dulu pernah dilakukan para pendiri negara dan para bapa bangsa.

Pemuda Hindu,  Bayu Pratomo, menyatakan silaturahmi secara lahir dan batin juga perlu dikembangkan dalam kehidupan nyata di masyarakat. Interaksi antar manusia yang mulai berkurang di era teknologi media sosial dapat menyebabkan hubungan antar manusia kurang sehat dan mudah tersulut emosi yang tidak logis yang harus menjadi kewaspadaan diri.