Menkeu KlaimTak Ada Lagi Intervensi BI

183

JAKARTA-Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar  Amerika Serikat (AS) dalam sepekan terakhir mulai stabil. Menteri Keuangan, Chatib Basri mengklaim, penguatan mata uang garuda ini sepenuhnya berdasarkan mekanisme pasar dan bukan hasil dari intervensi Bank Indonesia (BI).  Hal ini mengisyaratkan Rupiah kini sudah mencapai keseimbangan baru.

Pernyataan tersebut seperti ditegaskan Chatib dalam acara Mandiri Investment Forum 2013 di Grand Hyatt Hotel Jakarta, Senin (11/11). “Rupiah sudah mulai mencapai titik keseimbangan baru yang tampak dari rentang fluktuasi yang semakin menipis,” kata Chatib.

Di pasar spot antar bank, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan stagnan di posisi 11.375 per dolar AS.

Analis Monex Investindo Futures, Zulfirman Basir mengatakan investor masih bersikap waspada menanti kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) pada pekan ini untuk melihat apakah ada upaya baru dalam menjaga stabilitas rupiah. “Outlook rupiah masih netral, mata uang domestik diperkirakan diperdagangkan di kisaran Rp11.330-Rp11.660 per dolar AS,” katanya di Jakarta, Senin (11/11).

Menurut Chatib, sejak beberapa bulan teakhir volatilitas rupiah berada pada kecenderungan yang terus melemah yang akhirnya berada pada kisaran Rp11.000-an. Padahal, kata dia, sebelumnya rupiah masih berada pada angka Rp9.000-an per dolar AS. “Cadangan devisa kita naik terus dalam dua bulan terakhir mencapai US$97 miliar. Artinya, rupiah tidak lagi diintervensi BI. Jadi, dalam dua bulan terakhir kurs rupiah sudah ditentukan mekanisme pasar,” terang Chatib.

Lebih lanjut dia menyebutkan, fluktuasi rupiah yang berada pada tren pelemahan sempat mencapai tiga ratusan rupiah dalam sehari. Seiring dengan semakin membaiknya perekonomian dalam negeri, sehingga rupiah akhirnya menemui titik keseimbangan baru yang nilai fluktuasinya berada di angka Rp50-an.

Dengan demikian, tegas dia, volatiltas rupiah saat ini menunjukkan bahwa rupiah sudah berada di titik keseimbangan baru. Chatib mengatakan, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia harus siap untuk menghadapi perekonomian tanpa adanya quantitative easing dari Federal Reserve. “Artinya, nilai tukar mata uang di negara-negara berkembang berpotensi besar mengalami pelemahan,” ujar Chatib.

Untuk menyikapi kemungkinan tersebut, menurut Chatib, sejauh ini Indonesia sudah menyiapkan dana lapis kedua senilai US$40 miliar. Sehingga, lanjut dia, apabila The Fed melakukan tapering-off, maka pemerintah akan menghadapinya tanpa perlu menggunakan cadangan devisa yang ada di BI