OSO Tantang Senior Hipmi Beri Solusi Konkret Soal Ekonomi

27

JAKARTA-Peran dan kontribusi para pengusaha senior Hipmi sangat diharapkan agar pemerintah bisa memperbaikan ekonomi Indonesia ke depan. Oleh karena itu senior Hipmi tak boleh tinggal diam.
“Senior Hipmi dan Hipmi akan mengadakan diskusi-diskusi dan memberikan kontribusi pada pemerintah,” kata Ketua Ikatan Senior Hipmi Indonesia (ISHI) Oesman Sapta Oesman (OSO) usai pembukaan Silaturahmi dan Dialog Nasional ISHI di Hotel Rafflea, Jakarta, Jumat sore (26/8/2016).

Pembukaan silaturahmi dan dialog nasional ini dihadiri Presiden Joko Widodo. Tampak hadir di antaranya Aburizal Bakrie, Agung Laksono, Siswono Judohusodo, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua DPR Ade Komarudin, Ketua DPD Irman Gusman, Menko Perekonomian Darmin Nasution, serta para pengusaha senior.

Menurut Oesman Sapta, banyak senior Hipmi yang juga pakar ekonomi, mantan menteri dan pengurus partai politik yang mempunyai kewenangan di lembaga legislatif. “Jadi tidak mustahil mereka bisa memberikan pemikiran dan pandangan untuk perbaikan ekonomi kita ke depan,” katanya.

Sebelumnya dalam pengantar silaturahmi dan dialog nasional, Oesman Sapta memberikan apresiasi terhadap kehadiran Presiden Joko Widodo sebagai bukti nyata kebersamaan dan perhatian kepada pengusaha nasional terutama senior Hipmi baik di pusat maupun daerah. “Presiden Jokowi juga anggota Hipmi. Tadi ikut berdiri menyanyikan mars ISHI,” ucap Oso, panggilan Oesman Sapta.

Senior Hipmi, lanjut Wakil Ketua MPR, patut dan sangat wajar dapat aktif memberi dukungan penuh kepada presiden dan pemerintah agar semua program pemerintah yang dicanangkan bisa berhasil.

Oso menambahkan pertumbuhan ekonomi membaik dari 4,2 persen menjadi 5 persen. Kesenjangan ekonomi juga berkurang dari 0,43 menjadi 0,397. “Padahal banyak negara yang pertumbuhan ekonominya turun dan negatif,” katanya.

Dalam kesempatan itu OSO mengatakan tantangan pemerintah adalah membangun industri berbasis sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berpendidikan menengah. “Pemerintah bisa memilih empat sektor industri yang diprioritaskan yaitu industri pertanian, maritim, pariwisata, dan industri kreatif. Jadi tidak semua industri dicampuri pemerintah,” katanya.