Pemerintah Diminta Acuhkan Rekomendasi Panja Gula

96

JAKARTA-Pemerintah diminta tak perlu menggubris rekomendasi Panitia Kerja (Panja) Gula DPR untuk menutup 9 dari 11 izin industri gula rafinasi. Alasannya rekomendasi itu diduga agenda dari mafia importir gula putih yang ingin mendapatkan izin. “Presiden Jokowi jangan terbuai rekomendasi Panja Gula DPR. Kami minta Gerindra memanggil Abdul Wachid dan menariknya dari panja Gula DPR karena akan membuat simpatik masyarakat menurun terhadap Gerindra,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Development Monitoring Bin Firman Tresnadi kepada wartawan, Senin (11/4/2016)

Seperti diketahui Ketua Panja Gula Abdul Wachid meminta pemerintah menutup 9 dari 11 izin industri gula rafinasi. Rekomendasi itu jelas merugikan masyarakat dan petani tebu. Pernyataan Abdul Wachid dinilai memiliki benang merah, asal bunyi, tanpa solusi dan berpotensi akan membunuh Industri makanan dan minuman nasional yang meyerap tenaga kerja formal dan informal hampir 18,9 juta pekerja.

Bin Firman Tresnadi menyayangkan sikap kader Partai Gerindra Abdul Wachid yang kurang mengerti tentang tata niaga gula nasional. Bahkan dia tidak berpihak pada masyarakat yang menjalankan usaha kecil menengah disektor makanan dan minuman yang membutuhkan produk Industri Gula rafinasi dimana UKM merupakan cerminan Ekonomi kerakyatan.

Menurut Bin Firman, akhir-akhir ini disinyalir ada operasi senyap yang dilakukan oleh mafia importir gula kristal putih terhadap industri gula rafinasi di Indonesia. Sinyalemen tersebut diketahui dengan cara mengadu domba antara petani tebu dan pabrik gula putih kristal dengan industri gula rafinasi. Caranya dengan mengunakan usaha makanan dan minuman fiktif untuk membeli gula dari industri rafinasi. Kemudian gula rafinasi tersebut dijual kembali atau dirembeskan ke pasar pasar dengan harga yang sangat murah bila dibandingkan gula pasir tebu. “Hal ini terbukti dengan temuan investigasi tim pencari fakta di Cimahi , Purwokerto, Banjarnegara, Gunung Kidul, Surabaya ,Garut, Tasikmalaya ,Bogor, Bekasi, Depok, “ujar Bin Firman Tresnadi.

Sementara itu hasil investigasi IDM ke pedagang pasar di kota- kota yang terjadi rembesan gula rafinasi, mayoritas pedagang mengakui membeli gula rafinasi yang dikemas dalam karung tanpa merk dari mobil yang berkeliling. “Hal ini tentu sangat merugikan industri gula rafinasi nasional. Dengan begitu Industri Gula rafinasi nasional akan dituduh menjual gula rafinasi langsung ke pasar dan dijadikan sebagai musuh bersama petani tebu,” tandasnya.

Pria yang juga aktif sebagai pengurus Organisasi Petani tingkat nasional ini menyatakan ada langkah operasi kontra intelejen oleh mafia import gula putih dan para peyelundup gula putih Kristal untuk menghancurkan industri gula rafinasi yang masih sangat diperlukan untuk memasok Industri makanan dan minuman
“Ada upaya besar dari para mafia import gula putih yang terkenal dengan sebutan tujuh samurai gula yang sudah dicabut Izinnya saat pemerintahan SBY- Budiono. Akibat ulah tujuh samurai, importir gula putih kristal saat itu, selalu meyebabkan harga gula tinggi dan terjadi inflasi pangan, “ imbuhnya. **aec