Penerapan Manajemen Suplai Sangat Strategis

196

JAKARTA-Presiden Indonesian Association for Supply Chain Management (IASM), M. Hanafi menilai peran manajemen rantai suplai semakin strategis di hampir semua industri. Hal ini dilatari oleh kesadaran bahwa manajemen rantai suplai ini menguasai sebagian besar biaya perusahaan, bahkan mencapai 60-70 persen pembiayaan. Karenanya, banyak perusahan global yang menempatkan divisi Supply Chain Management (Manajemen Rantai Suplai) sebagai suatu yang strategis.  “Dengan menguasai sebagian besar dari biaya perusahaan maka penanganan manajemen suplai perusahaan pun semakin penting. Setidaknya jika dilakukan dengan baik akan membantu perusahaan menghemat biaya hingga 30 persen,”  ujar   Hanafi  saat membuka seminar dengan tema “Building Awareness of Best Practice in Supply Chain Managament di Jakarta, Kamis (14/11).

Kesadaran ini kata dia kemudian mendorong banyak perusahaan yang menempatkan suplai manajemen sebagai suatu yang sangat penting. Bahkan dalam perkembangannya, manajemen rantai suplai telah mengalami evolusi. Dari sebelumnya hanya dilihat sebagai pengadaan barang, saat ini manajemen rantai suplai dipandang sebagai keseluruhan kegiatani, mulai dari pengadaan barang, logistic, warehousing, inventory, distribution, hingga  tiba di tangan pengguna akhir.  “Seiring dengan perubahan kesadaran ini, kebutuhan akan tenaga ahli suplai manajemen ke depan dirasakan semakin besar, tak terkecuali Indonesia. Menjadi staf profesional di sektor manajemen suplai saat ini dan ke depan menjadi profesi yang layak dibanggakan. “Ke depan kebutuhan akan tenaga manajemen suplai profesional, yang sampai sekarang sulit didapatkan pada pasar tenaga kerja di Indonesia, pasti sangat tinggi,” kata dia.

Menurut Hanafi, IASM, yang kini berafiliasi dengan Institute for Supply Management (ISM), ingin memberikan inspirasi dan menyiapkan generasi muda Indonesia untuk menjadi profesional di bidang manajamen rantai suplai. “Karena itu, seminar ini menyasar generasi muda terutama kalangan mahasiswa, dengan menghadirkan 250 mahasiswa/i dari 25 universitas terbaik di Jakarta, Depok, Bogor dan Bandung,” urai dia.

Hal lain yang juga tidak kalah penting, menurut Hanafi, adalah komitmen menginspirasi kaum muda sebagai generasi masa depan untuk menjadi praktisi profesional yang patuh pada norma-norma etika bisnis (code of conduct). Secara khusus ini menjadi krusial ketika persaingan di era globalisasi menjadi semakin ketat dengan pemberlakuan Asean Free Trade Area (AFTA), Desember 2015 nanti. “Salah satu aspek yang sangat dituntut untuk menjadi profesional di sektor manajemen suplai adalah integritas,” tandas Hanafi.

Sementara itu, mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, Letjen TNI (purn) Kiki  Syahnakri, mengatakan dimensi yang harus diperhatikan dalam penerapan manajemen logistik adalah pendekatan manajemen terkini. Fungsi perencanaan dan penentuan kebutuhan yang meliputi penganggaran, pengadaan, penyimpanan atau pergudangan harus betul-betul diperhatikan. “Dalam penerapan suplai chain, asas-asas yang harus diperhatikan yakni responsif, kesederhanaan, fleksibilitas, ekonomis serta memiliki daya dukung untuk memperoleh dukungan logistik dan penyediaan logistik,” demikian Kiki.

Untuk logistik militer, tambahnya, unsur-unsur yang harus diperhatikan yakni perbekalan, angkutan, pelayanan, pemeliharaan dan perbaikan, konstruksi serta evakuasi dan hospitalisasi. “Yang terpenting dalam logistik militer itu harus swasembada, sederhana, tepat mutu, tepat lokasi, tepat jumlah, dan tepat sasar. Juga mesti efisien,” urainya.

Kiki menyitir prinsip yang tertanam di dunia militer bahwa logistik bukan hal yang menentukan dalam operasi militer, tetapi dukungan sistem logistik yang tidak memadai, tentu tidak akan mendukung aspek strategis atau pergerakan taktis-operasional. Sebaliknya, apabila rencana strategis tidak dapat menjamin keamanan logistik, dapat dipastikan operasi militer yang dijalankan akan mengalami kesulitan bahkan kegagalan. “Agar operasi militer bisa berjalan dengan baik, maka rencana operasi taktis dan operasi logistik harus saling mendukung,” ujar mantan Wakasad yang menulis buku “Timor-Timur The Untold Story” ini.