Perang Dagang Ternyata Rugikan AS Sendiri

19

WASHINGTON- Kebijakan perang perdagangan Presiden Donald Trump ternyata merugikan ekonomi Amerika Serikat sebesar 7,8 miliar dolar AS dalam produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2018.

Demikian hasil sebuah studi tim ekonom dari universitas-universitas terkemuka AS yang diterbitkan minggu ini, mengutip antaranews.com, (17/3/2019).

Penulis makalah mengatakan mereka menganalisis dampak jangka pendek dari tindakan Trump dan menemukan bahwa impor dari negara-negara sasaran menurun 31,5 persen sementara ekspor AS yang ditargetkan turun sebesar 11 persen. “Mereka juga menemukan bahwa kerugian konsumen dan produsen secara tahunan dari biaya impor yang lebih tinggi mencapai 68,8 miliar dolar AS,” kata para peneliti

“Setelah memperhitungkan pendapatan tarif yang lebih tinggi dan keuntungan bagi produsen dalam negeri dari harga yang lebih tinggi, kerugian kesejahteraan secara agregat mencapai 7,8 miliar dolar AS atau 0,04 persen dari PDB,” tambahnya.

Studi ini ditulis oleh tim ekonom di Universitas California Berkeley, Universitas Columbia, Universitas Yale dan Universitas California di Los Angeles (UCLA) dan diterbitkan oleh Biro Riset Ekonomi Nasional.

Setelah menjuluki dirinya sendiri sebagai “the tariff man,” Trump berjanji pada saat kampanye dan sebagai presiden akan mengurangi defisit perdagangan dengan menutup impor yang tidak adil dan menegosiasikan kembali perjanjian perdagangan bebas.

Trump telah mengejar agenda perdagangan proteksionis untuk melindungi manufaktur AS. Washington dan Beijing telah terkunci dalam pertempuran tarif saling balas selama beberapa bulan, karena memaksakan tarif unilateral untuk berperang, dan Trump telah memberlakukan tarif yang telah mengguncang Uni Eropa dan mitra dagang utama lainnya.

Para penulis mengatakan sementara tarif-tarif AS menyukai sektor-sektor yang terletak di negara-negara “kompetitif secara politis”, tarif-tarif pembalasan yang dikenakan pada barang-barang AS telah mengimbangi keuntungan bidang-bidang ini.

“Kami menemukan bahwa pekerja-pekerja sektor yang dapat diperdagangkan di wilayah-wilayah Republik yang paling parah terkena dampak perang perdagangan,” kata para peneliti. ***