Presiden-Delegasi OECD Bahas Reformasi Perpajakan di Indonesia

22
Presiden Jokowi berbincang dengan delegasi OECD, di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (24/10)

JAKARTA-Presiden Joko Widodo menerima delegasi Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-Operation and Development/ OECD) guna membahas bentuk kerja sama, salah satunya reformasi perpajakan di Tanah Air.

Adapun delegasi dari OECD yaitu Angel Gurría (Sekjen OECD), Marcos Bonturi (Perwakilan khusus OECD di PBB), Juan Yermo (Deputi Kepala Staf OECD), Luiz de Mello (Deputy Direktur OCED), Alexander Böhmer (Kepala Perwakilan OECD Jakarta) dan Litsa Vavakis (Penasihat Sekhen OECD). “Jadi menurut mereka Indonesia itu sangat penting untuk melakukan reformasi perpajakan, tentu saja mereka sudah tahu kita sedang melakukan tax amnesty dan itu justru bisa dikombinasikan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan-perbaikan di bidang perpajakan,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution kepada wartawan seusai mendampingi Presiden Jokowi di Jakarta, Senin (24/10).

Selain Menko Darmin, Menteri Sekretaris Negara Pratikno juga turut mendampingi Presiden Jokowi dalam pertemuan itu.

Dalam pertemuan itu jelas Darmin, Sekretaris Jenderal OECD Angel Gurria merekomendasikan beberapa hal yang dapat dilakukan Indonesia untuk melakukan perbaikan sistem perpajakannya. “Mereka menyampaikan hal-hal seperti IT (information and technology) dari perpajakan, persoalan perbaikan administrasi perpajakan, kemudian ada juga mengenai tax policynya itu sendiri,” ujar Angel seperti dikutip Menko Darmin.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Jokowi juga menyampaikan bahwa selain sedang melakukan reformasi di bidang perpajakan, saat ini Indonesia juga sedang fokus membangun infrastruktur serta sedang menyiapkan program pendidikan dan pelatihan kejuruan. “Presiden juga menyampaikan hal lain bahwa Indonesia juga sedang menyiapkan dan akan mendorong pendidikan dan pelatihan vokasional, presiden menyatakan itu merupakan program yang menjadi salah satu yang akan dikembangkan secara besar-besaran pada tahun depan,” ujar Darmin.

Darmin menambahkan, program kerja sama antara Indonesia dengan OECD sudah berjalan kurang lebih empat tahun sejak 2012. Kerja sama yang dilakukan terdapat di beberapa bidang diantaranya reformasi perpajakan dan pendidikan. Hal tersebut merupakan salah satu upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Menurut Darmin, diperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2016 akan berkisar di angka lima persen. “Untuk pertumbuhan ekonomi, bahwa pada kuartal I pertumbuhan ekonomi Indonesia 4,978 persen, kuartal II, 5.18 persen, sampai situ saja. Pertumbuhan di kuartal III kita menduga 5.1-5,2 persen,” ujar Darmin.