Presiden: Pembangunan Pesisir Ibukota Jadi Jawaban Jakarta

67
Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla berbincang dengan sejumlah menteri sebelum memimpin rapat terbatas, di kantor Presiden, Jakarta, Rabu (27/4)

JAKARTA- Pengendalian sumber daya air lingkungan di wilayah DKI Jakarta harus dilakukan secara terpadu dan terintegrasi dari hulu sampaikan ke hilir. Untuk itu, pembangunan pesisir ibukota negara atau National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) yang sudah digagas cukup lama ini akan menjadi sebuah jawaban untuk Jakarta. “DKI Jakarta  sebagai ibukota negara  harus memiliki ketahanan dan daya dukung lingkungan yang berkelanjutan (suistain), baik dalam penyediaan kualitas air bersih, air minum dan juga mitigasi penurunan permukaan tanah, pengelolaan air limbah, revitalisasi air sungai dan juga pengendalian banjir,” kata Presiden Joko Widodo saat memberikan pengantar pada rapat terbatas yang membahas masalah Reklamasi Jakarta  di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (27/4).

Rapat tersebut dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko PMK Puan Maharani, Menko Kemaritiman Rizal Ramli, Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Kepala Staf Presiden Teten Masduki, Menteri PPN/Kepala Bappenas Sofyan Djalil, Menteir BUMN Rini Soemarno, Menlu Retno Marsudi, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, dan Gubernur Banten Rano Karno.

Berdasarkan data yang diterimanya, menurut Presiden, penurunan permukaan tanah di DKI Jakarta saat ini sudah sangat mengkhawatirkan, yaitu rata-rata 2,5-12 cm. Diperkirakan seluruh Jakarta Utara berada di bawah permukaan laut pada 2030.  “Akibatnya, pada saat tersebut 13 sungai yang melewati Jakarta tidak bisa mengalirkan airnya ke teluk Jakarta,” ujar Presiden.

Oleh sebab itu, lanjut Presiden, pengendalian sumber daya air lingkungan di wilayah DKI Jakarta harus dilakukan secara terpadu dan terintegrasi dari hulu sampaikan ke hilir.

Presiden Jokowi meminta agar konsep NCICD ini tidak dipersempit yang berkaitan dengan reklamasi Jakarta.   “Kita harus membicarakan hal-hal yang startegis, yang besar, yang visoner ke depan untuk mengantisipasi yang akan mungkin terjadi pada 2030,” tegas Presiden Jokowi.

Presiden mengisahkan saat berkunjung ke Belanda, pekan lalu, ia sengaja fokus ingin melihat Belanda terkait dengan pengelolaan air, termasuk di dalamnya water supply, dengan sanitasi, dan yang lain lainnya.

Nantinya, lanjut Presiden, yang berkaitan dengan pengembangan pelabuhan, pengembangan bandara, pengembangan jalan tol, perumahan dan system transportasi massal betul-betul semuanya harus terintegrasi dengan baik.