Rasio Aset Likuid Terhadap NCD Mencapai 82,16%

75
Ketua OJK, Muliaman D Hadad/photo dok antaranews.com

JAKARTA-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat  kondisi dan kinerja lembaga keuangan nasional saat ini umumnya membaik dan resilient dalam menghadapi gejolak ekonomi global dan domestik. Indikatornya, kecukupan modal lembaga jasa keuangan jauh di atas persyaratan minimum. “Kondisi Likuiditas, risiko kredit dan risiko pasar lembaga keuangan kita dapat dipertahankan pada tingkat yang terkendali dengan baik,” kata Ketua OJK, Muliaman D Hadad di Jakarta, Senin (25/4).

Pada posisi Februari 2016 jelasnya, rasio kecukupan modal perbankan (CAR) dipertahankan pada tingkat yang tinggi yaitu 21,93%. Demikian juga dengan modal berbasis risiko (RBC) dari industri asuransi juga tetap tinggi (asuransi jiwa 534%, asuransi umum 262%), jauh di atas ambang batas minimal 120%.

Menurutnya, perbankan nasional memiliki aset likuid yang cukup dengan Rasio Aset Likuid terhadap Non-Core Deposit (NCD) mencapai 82,16%. Sedangkan Rasio kecukupan investasi di Industri Asuransi dapat dipertahankan di atas 100%.

Selain itu, risiko kredit di perbankan dan perusahaan pembiayaan dapat dijaga cukup rendah dengan tingkat Non-Performing Loan (NPL) Gross dan Net masing-masing tercatat sebesar 2,87% dan 1,36% dan Non Performing Financing Gross dan Net masing-masing sebesar  1,57 % dan 0,65%. “NPL & NPF memang sedikit meningkat karena pertumbuhan kredit yang melambat, namun masih jauh di bawah ambang batas (5%),” terangnya.

Namun demikian, intermediasi lembaga keuangan nasional atau kegiatan pembiayaan sampai dengan Februari 2016 ini masih menunjukkan perlambatan pertumbuhan sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan domestik.

Kredit perbankan tumbuh sebesar 8,24% yoy, begitu juga dengan Pembiayaan dari lembaga pembiayaan mengalami penurunan. “Kami menyadari bahwa kita harus membalikkan perlambatan ini. Untuk itu, sebagai upaya yang berkelanjutan dalam mencapai pertumbuhan yang tinggi & berkelanjutan, perlu ada strategi pertumbuhan (growth strategy) mencapai output potensial ekonomi yang baru atau bahkan lebih tinggi. Sektor keuangan domestik harus menjadi katalis yang signifikan dalam transformasi ini,” terangnya.

OJK lanjutnya melakukan sejumlah inisiatif jangka pendek dan menengah untuk meningkatkan pertumbuhan kredit yang disalurkan oleh lembaga keuangan. Upaya itu, antara lain: membuka luas akses keuangan di sektor-sektor prioritas seperti misalnya sektor kemaritiman, pariwisata, energi terbarukan, pertanian, industri kreatif dan lain-lain, memperluas penyaluran KUR, pembentukan TPAKD; mendorong perbankan untuk meningkatkan efisiensi mereka; menerapkan kebijakan capping suku bunga deposito untuk mencegah ‘perang suku bunga’; memberikan kemudahan bagi perbankan untuk merestrukturisasi pinjaman serta penyederhanaan proses IPO dan penyediaan papan UKM di bursa.

Sedangkan dalam jangka menengah dan jangka panjang,  jelasnya OJK enyediakan Pedoman yang komprehensif bagi Industri sebagai arah pengembangan sektor keuangan kedepan baik yang konvensional maupun syariah sebagaimana dijabarkan dalam Master Plan Sektor Jasa Keuangan 2015-2019.

Secara keseluruhan lanjutnya stabilitas makroekonomi domestik tetap solid di tengah melambatnya pemulihan ekonomi global.

Pertumbuhan ekonomi tahun 2015 tercatat sebesar 4,79% dan diperkirakan akan sedikit meningkat di tahun 2016 menjadi sekitar 4,9-5,6%. Defisit transaksi berjalan dalam tren menyempit (2,06% dari PDB) dan di tengah memburuknya kinerja perdagangan global, ekspor non-minyak / gas ternyata mengalami peningkatan. Indikator lainnya seperti tingkat inflasi cukup terkendali dan dapat dijaga sesuai targetnya (Maret 2016: 4,45% yoy), begitu juga nilai tukar rupiah yang stabil. Volatilitas di pasar modal dalam negeri cenderung mengalami moderasi sejak awal tahun 2016. Baik pasar ekuitas maupun pasar surat utang kembali ke tren penguatan, dan menarik arus masuk modal non-residen cukup signifikan. “Kami memperkirakan faktor eksternal, termasuk normalisasi kebijakan di AS, perlambatan ekonomi China dan pelemahan harga komoditas akan mewarnai pergerakan pasar modal kita selama tahun 2016 ini,” pungkasnya.