Bank Windu Alami Penurunan Laba Bersih 20% Pada 2013

Monday 14 Apr 2014, 9 : 38 pm
infobanknews.com

JAKARTA-Kondisi laba bersih Bank Windu rupanya tak sebaik dulu, terutama pada 2013 lalu. Masalahnya perolehan laba bersih mengalami penurunan sebesar 20%. Penyebabnya, soal pemulihan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN).  “Inilah yang menjadi penyebab utama mengapa perolehan laba bersih kami turun,” kata Direktur Utama Bank Windu, Luianto Sudarmana, Senin, (14/04/2014).

Menurut Lukianto, Bank Windu sempat mengeluarkan pemulihan CKPN sebesar Rp 31,94 miliar pada 2012. Kemudian dilanjutkan 2013, kembali pemulihan CKPN dikeluarkan sebesar Rp 7,54 miliar. Sementara kredit yang disalurkan di akhir 2013 mencapai Rp 5,48 triliun. Tumbuh 21,23% dibanding akhir 2012 sebesar Rp 4,52 triliun. “Kredit tumbuh seiring dengan pembenahan intern di Bank,” ucapnya

Tak hanya itu, pertumbuhan kredit juga dipengaruhi dari sejumlah instrumen. “Peningkatan sumber daya manusia dan perbaikan good corporate governance (GCG), didukung dengan permodalan yang mencukupi untuk melakukan ekspansi kredit,” terangnya

Dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun Bank Windu di akhir 2013 mencapai Rp 6,57 triliun, tumbuh 17,53% dibanding akhir 2012 yang mencapai Rp 5,59 triliun. Adapun total aset yang dicapai di akhir 2013 mencapai Rp 7,91 triliun, tumbuh 21,87% dibanding akhir 2012 yang mencapai Rp 6,49 triliun.

Sedangka rasio kecukupan modal (CAR) terjaga di level 14,68%, rasio kredit bermasalah (NPL) Gross 1,69%, NPL Net di 1,39%. Selain itu, margin bunga bersih (NIM) di level 4,87%, serta biaya terhadap pendapatan (BOPO) di level 84,89 %. Terakhir, rasio penggunaan simpanan untuk kredit (LDR) terjaga di level 82,73%. (ek)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

Solusi Pembelajaran Seluler ‘TouchClass’ diminati oleh Pelaku Bisnis dan Institusi Pendidikan

JAKARTA-Perusahaan Edutech Korea NewIn memperluas pasarnya di Indonesia dengan Solusi

Transaksi Bitcoin Tercatat Secara Transparan

JAKARTA-Meksi masih kontroversi dan dilarang oleh Bank Indonesia sebagai alat