Dampak COVID-19, Indonesia Terancam Kehilangan 60% Permintaan Ekspor

Ilustrasi

JAKARTA-Penyebaran virus corona memperbesar risiko terjadinya resesi di beberapa negara didunia, termasuk negara-negara yang selama ini menjadi negara tujuan eksport Indonesia.

Salah satu negara pasar utama ksport Indoesia adalah China dengan porsi 16%. Angka itu, bila digabungkan dengan angka ekspor ke negara lain yang terkena virus -Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan dan ASEAN- secara kumulatif mencakup lebih dari 60% dari ekspor Indonesia.

“Potensi resesi di banyak negara-negara tersebut akan mempengaruhi permintaan ekspor Indonesia,” ujar Economist DBS Group Research, Radhika Rao di Jakarta, Rabu (25/3).

Menurutnya, PDB Indonesia tumbuh sekitar 5% pada 2019. Namun pada 2020, kondisi eksternal tampaknya akan lebih berat.

Baca :  Raih KPR Rp100 Miliar, BTN Apresiasi Developer Berprestasi

Sektor pariwisata Indonesia terkena dampak langsung dari COVID-19 and menyumbang sekitar 2% dari PDB, dengan jumlah kedatangan wisatawan dari China mencakup sekitar 12% dari total kedatangan.

“Dengan memperhitungkan faktor penyebaran infeksi dan penutupan di banyak negara di dunia, kedatangan wisatawan dari Amerika dan Eropa juga akan terpengaruh,” urainya.

“Di sektor perdagangan, saat SARS mewabah pada 2002-2003 ekspor Indonesia ke China kurang dari 5%,”ucapnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan penurunan harga minyak (Brent) sebesar lebih dari 50% sejak awal tahun merupakan penyelamat bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.

Tetapi, dampak positif dari turunnya harga minyak mungkin menjadi tidak berarti karena harga komoditas lain secara umum menurun dan mempengaruhi prospek para eksportir komoditas di kawasan ASEAN, termasuk Indonesia.

Baca :  Kadin: Ambisi Bangkitkan Ekonomi Harus Diawali Perbaikan Aspek Kesehatan

“sepertiga dari ekspor Indonesia terdiri atas minyak kelapa sawit, batu bara, tembaga, karet, dll. Komoditas merupakan produk ekspor penting ke China, termasuk karet (yang harganya telah anjlok sejak awal tahun), batu bara dan logam dasar,” pungkasnya.