Dampak Penundaan Akuisisi Saham BTN Turun 6,5%

Thursday 24 Apr 2014, 12 : 21 pm

JAKARTA-Pasca penundaan akuisisi BTN oleh Bank Mandiri, dampaknya cukup significan di lantai bursa. Pada Rabu, (24/04/2014) saham BTN  mengalami penurunan drastis hingga 6,51% menjadi Rp1.220.  Diperkirakan ada sekitar tiga sekuritas yang paling banyak melepas saham ini adalah Credit Suisse Securities senilai Rp 36,422 miliar, Deutsche Securities senilai Rp 23,659 miliar, dan Indo Premier Securities senilai Rp 2,586 miliar.

Beberapa hari lalu, posisi harga saham BBTN pada 16 April 2014  berada di level Rp 1.405. Dengan demikian, jika dibandingkan dengan posisi hari ini yang berada di level Rp 1.215, terjadi penurunan yang cukup dalam yakni 13,5% hanya dalam kurun waktu 5 hari!

Penurunan saham BBTN sudah berlangsung sejak isu akuisisi oleh Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengemuka. Apalagi setelah itu, terjadi penolakan akuisisi oleh ratusan karyawan BBTN atas rencana tersebut. Kemarin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengimbau agar akuisisi Bank Mandiri atas BTN ditunda.

Sejumlah ekonom menyayangkan keputusan politis yang diambil sekretaris kabinet (Sekkab) Dipo Alam yang membatalkan rencana konsolidasi BTN dan Bank Mandiri yang di upayakan oleh kementerian BUMN. Keputusan ini dinilai lebih bernuansa politis daripada kepentingan strategis untuk membesarkan BTN dan mengatasi backlog (defisit) perumahan yang telah mencapai 15 juta unit.

Pengamat Ekonomi Yanuar Rizky mengatakan, konsolidasi BTN-Mandiri merupakan rencana lama yang seharusnya tidak perlu dipersoalkan. Apalagi tren perbankan dunia juga mengarah pada konsolidasi seperti yang dilakukan oleh Temasek Holding’s dan Khasanah Berhad.
“Sangat disayangkan perdebatan yang muncul bukan pada subtansi, tapi lebih banyak ke aspek politis,” katanya kepada wartawan

Padahal untuk memperkuat BTN, lanjut Yanuar lagi, daripada melakukan right issue dan saham pemerintah terdilusi, konsolidasi adalah jalan terbaik. “Hal itu juga yang dilakukan perbankan di negara tetangga,” ujarnya

Yanuar menambahkan, Indonesia tidak bisa menunda lagi proses konsolidasi perbankan. Pasalnya hal itu sudah dilakukan negara lain dalam 5 tahun terakhir dalam menghadapi MEA. “Pemerintah baru harus punya sikap yang jelas terhadap upaya konsolidasi perbankan agar kita memiliki bank yang kuat di regional,” tambahnya.

Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, sinergi Mandiri-BTN sesungguhnya sangat strategis untuk melahirkan bank yang kuat dan mampu menjadi sumber pembiayaan bagi sektor perumahan di Indonesia yang butuh biaya besar.

Sementara jika hanya menggantungkan pada kondisi BTN saat ini akan sangat berat mengingat kapasitas modal dan sumber pendanaannya sangat terbatas. “Upaya Meneg BUMN sangat strategis dan tepat untuk melahirkan bank yang kuat. Sinergi Mandiri-BTN juga akan menjadikan kedua bank mampu bersaing dengan bank-bank asing yang semakin kokoh, baik di Indonesia maupun ASEAN,” pungkasnya. **

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

Cara Menanamkan Jiwa Patriotik Pada Anak Sejak Dini

Oleh: Nanang Djamaludin Setiap orangtua di Indonesia memanggul tugas sejarah

Bank Asing Tak Mudah “Adopsi” Izin Berlapis

JAKARTA-Persatuan Bank Umum Nasional (Perbanas) meminta Bank Indonesia memberlakukan masa