Ekonomi Harus Tumbuh 5% Agar Keluar Dari Jebakan Negara Berpendapatan Menengah

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara

BALI-Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara mengatakan perekonomian Indonesia harus tumbuh lebih dari 5% untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) dengan meningkatkan produktivitas dan daya saing.

“Produktivitas dan daya saing Indonesia 6 tahun lalu termasuk negara yang fragile. Kita harus bekerja keras. Pertumbuhan Indonesia yang sebesar 5% bukanlah pertumbuhan yang rendah. Itu masih bagus tetapi tidak cukup. Kita pernah di 5,2% tetapi sulit mempertahankannya. Apalagi kita melihat tantangan global antara lain, perang dagang Amerika-China, Brexit,” kata Wamenkeu pada The 9th Annual International Forum on Economic and Public Policy (AIFED) di Nusa Dua, Bali pada Kamis, (05/12).

Oleh karena itu, untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing, pemerintah memprioritaskan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), pembangunan infrastruktur, menyederhanakan aturan serta menyederhanakan birokrasi seperti di BKF yang sudah mulai memangkas eselon III dan IV nya baru-baru ini.

Baca :  Habis Waktu Buat Laporan SPJ, Presiden Minta ASN Terapkan E-Governmet

Dalam pembangunan SDM, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saat ini melakukan terobosan kebebasan dalam belajar dan mengajar.

Ia melanjutkan, pada dasarnya pembangunan SDM didesain untuk akses yang lebih mudah terutama pendidikan tingkat atas (higher education), perbaikan kualitas guru dan fasilitas, sinergi antar lembaga dan program pendidikan, link and match dengan industri dengan bekerjasama dengan balai latihan kerja, dan swasta serta insentif bagi perusahaan / industri yang mau berinvestasi dalam research and development (litbang) selain insentif pajak super deduction sebesar 300%.

Ini berbeda lagi untuk deduksi pelatihan kerja (vocational training) sebesar 200%.

Sebagai informasi, AIFED merupakan kegiatan tahunan kerjasama antara Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Asian Development Bank (ADB), Pemerintah Australia (program PROSPERA), ADB Institute, UNICEF dan World Bank.

Baca :  PUPR Serah Terima BMN Senilai Rp266 Miliar