HPE CPO Turun, Kakao Naik

JAKARTA-Harga Patokan Ekspor (HPE) crude palm oil (CPO) mengalami penurunan seiring harga referensi internasional yang juga turun. Harga referensi CPO USD 810,63/MT (metric ton), turun sebesar USD 54,87/MT atau 6,3% dari periode bulan sebelumnya, yaitu USD 865,50/MT. Atas dasar referensi itu, Kementerian Perdagangan menetapkan HPE CPO sebesar USD 739/MT, turun USD 55/MT atau 6,9% dibandingkan periode bulan sebelumnya yang sebesar USD 794/MT. “BK (bea keluar) CPO untuk September 2014 tercantum pada kolom 3 lampiran II PMK 128 Tahun 2013 sebesar 9%, atau bergeser turun satu kolom dibandingkan periode Agustus 2014 sebesar 10,5%,” ujar Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Partogi Pangaribuan, di Jakarta, Jumat (29/8).

Penetapan HPE tersebut dikeluarkan Kemendag melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 50/M-DAG/PER/8/2014 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar pada Selasa (26/8). Produk Pertanian dan Kehutanan yang dikenakan Bea Keluar (BK) adalah CPO, biji kakao, kayu, dan kulit. Penetapan HPE periode September telah disikapi berdasarkan perkembangan harga komoditas, baik nasional maupun internasional. “Penurunan harga referensi dan HPE untuk produk CPO disebabkan oleh menurunnya harga internasional untuk komoditas tersebut, sedangkan untuk biji kakao berlaku sebaliknya,” jelasnya.

Sedangkan, harga referensi biji kakao untuk penetapan HPE biji kakao mengalami kenaikan sebesar USD 107,51/MT atau 3,5%; yaitu dari USD 3.091,67/MT menjadi USD 3.199,18/MT. Ini berdampak pada penetapan HPE biji kakao yang juga meningkat sebesar USD 105/MT atau 3,8% dari USD 2.789/MT pada periode bulan sebelumnya menjadi USD 2.894/MT. BK biji kakao tidak berubah jika dibandingkan periode bulan sebelumnya, yaitu sebesar 10%. Hal tersebut tercantum pada kolom 3 lampiran II PMK 75 Tahun 2012. Sementara itu, untuk HPE maupun BK komoditas produk kayu dan produk kulit tidak ada perubahan dari periode bulan sebelumnya.

Perjuangan CPO Produk kayu dan CPO Indonesia kini mendominasi pasar Uni Eropa (UE). Produk CPO Indonesia dan turunannya merupakan terbesar ke-3 di Uni Eropa. Ini tak lepas dari perjuangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yang pasang badan di forum-forum internasional, bahwa produk kayu dan CPO Indonesia sangat memperhatikan lingkungan. Sejak 2013, Pemerintah Indonesia dan Uni Eropa juga telah menandatangani perjanjian Kemitraan Sukarela tentang Penegakan Hukum, Ketatalaksanaan, dan Perdagangan di bidang Kehutanan atau Forest Law Enforcement Governance and Trade (FLEGT). Kepala Pusat Humas Kemendag Ani Mulyati mengatakan bahwa pemerintahan baru Indonesia akan menjaga produk-produk sawit dan kehutanan Indonesia tetap menjadi primadona di Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. “Pemerintahan Indonesia tetap memperhatikan isu lingkungan dan keberlanjutan,” katanya. Seperti diketahui, Uni Eropa dan Amerika Serikat memang sangat berharap pemerintahan baru Indonesia memperhatikan isu lingkungan dan keberlanjutan. Dunia berharap Indonesia tetap menanamkan nilai demokrasi, sosial, hak buruh, serta memperhatikan kemajuan infrastruktur dan pendidikan.