Kominfo: Talenta Digital Indonesia Harus Unggul Dari Sisi Soft Skill

Thursday 7 Apr 2022, 12 : 46 pm
by
Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Jubir Kementerian Kominfo), Dedy Permadi,

JAKARTA-Talenta digital Indonesia diharapkan tidak hanya memiliki keunggulan dari sisi keterampilan teknis (hard skill), tetapi juga ketrampilan nonteknis (soft skill).

Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Jubir Kementerian Kominfo), Dedy Permadi, mengatakan soft skill diperlukan untuk menghadapi dinamika dunia digital yang semakin kompleks dan berkembang sangat cepat di berbagai bidang.

“Mengingat karakteristik dunia digital yang makin kompleks, dinamis, serta berkembang dengan sangat kecepatan. Talenta digital Indonesia diharapkan tidak hanya unggul dalam hal keterampilan teknis atau hard skill, namun juga cakap keterampilan nonteknis atau soft skill,” ujar Jubir Kementerian Kominfo di Jakarta oada Rabu (6/4/2022).

Lebih lanjut Jubir Ded menjelaskan, keterampilan soft skill tersebut dikenal dengan sebutan 4C (critical thingking, creativity, collaboration dan communication), serta complex problem solving.

Di Indonesia, katanya, soft skill digital sangat relevan untuk dikembangkan di kalangan kandidat tenaga kerja.

“Survei East Ventures Digital Competitiveness Index 2022 menunjukkan bahwa 95,8 persen perusahaan digital di Indonesia menganggap kemampuan digital merupakan salah satu komponen penting dalam proses seleksi calon tenaga kerja,” katanya.

Kendati demikian, Dedy mengungkapkan, 56,3 persen perusahaan digital saat ini masih merasa kesulitan untuk mencari tenaga kerja dengan kemampuan digital.

Para perusahaan menilai kandidat tenaga kerja di Indonesia masih memiliki kelemahan terkait kemampuan digitalnya.

Contohnya adalah kemampuan implementasi yang belum memadai atau masih bersifat teoritis, kemampuan yang dimiliki masih terlalu umum, pengalaman yang belum memadai, dan adaptasi yang lama untuk menyelesaikan permasalahan digital di sebuah perusahaan.

“Selain itu, penerapan literasi dan kecakapan digital oleh tenaga kerja Indonesia saat ini masih terbilang rendah,” imbuhnya.

Dedy merujuk pada studi Digital Skills Research Report 2021 di Amazon Web Services dan AlphaBeta menemukan bahwa hanya terdapat 19 persen tenaga kerja Indonesia yang mengaplikasikan literasi digital level dasar dan hanya enam persen tenaga kerja Indonesia yang mengaplikasikan kecakapan digital teknis atau menengah.

Riset AlphaBeta pada 2020 juga menunjukan apabila Indonesia melakukan intensifikasi peningkatan keterampilan digital, maka tenaga kerja yang memiliki keterampilan digital akan memberikan kontribusi sebesar Rp4.434 triliun terhadap PDB Indonesia di 2030.

“Nilai yang sangat fantastis, nominal ini meningkat lebih dari dua kali lipat dari proyeksi awal jika tidak dilakukan intensifikasi peningkatan keterampilan yaitu lebih dari Rp1.900 triliun. Artinya ada gap yang cukup besar antara kebijakan tanpa intensifikasi dan kebijakan dengan intensifikasi,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

jalur bogor-puncak

Penanganan Jalur Puncak Bogor Ditargetkan Rampung 2020

JAKARTA-Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan

Unika Atma Jaya-IIF Gelar Konferensi Pemberdayaan Manusia Indonesia

JAKARTA-Program Studi Administrasi Bisnis Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya