Sektor Industri Makin Tertekan

Anggota Komisi XI DPR-RI dari FPKS Ecky Awal Mucharam

JAKARTA-Anggota Komisi XI DPR-RI dari FPKS Ecky Awal Mucharam meningatkan akan persoalan deindustrialiasi yang makin dalam di tengah kondisi rupiah yang terpuruk dan kenaikan harga BBM saat ini.

“Tekanan terhadap kinerja sektor industri pada 2018 cukup kompleks. Depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap USD menyebabkan semakin mahalnya biaya impor bahan baku/penolong dan modal. Sementara daya beli masyarakat tertekan karena lonjakan BBM,” ujar Ecky kepada para wartawan di Jakarta, Rabu (18/7).

Ecky menjelaskan, kondisi pelemahan rupiah ini akan berpengaruh terhadap rencana bisnis perusahaan. Kondisi terburuk, pengusaha menutup usahanya dan menjadi pedagang. Jika demikian maka ancaman terhadap tenaga kerja akan meningkat serta mendorong lonjakan barang-barang impor terutama konsumsi. Padahal, neraca transaksi berjalan sudah defisit, karena tingginya kebergantungan terhadap impor.

Baca :  PUPR Dorong KPBU Capai Target 10 Juta Sambungan Baru

“Sementara daya beli masyarakat tertekan karena lonjakan BBM. Ini menyebabkan inflasi meningkat, sehingga masyarakat cenderung menurunkan konsumsinya. Pada bagian lain, upaya meningkatkan penetrasi barang-barang industri manufaktur melalui ekspor masih cukup terbatas. Hal ini disebabkan relatif mahalnya harga barang-barang di Indonesia dibandingkan barang yang sama di negara lain.

Padahal deindustrialisasi di Indonesia semakin nyata. Ada beberapa data yang mengonfirmasi kondisi tersebut. Pertama, pertumbuhan industri manufaktur rata-rata di bawah 5 persen; lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi. Kedua, kontribusi industri manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi juga menurun, hampir menyentuh level 20 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Meski masih menjadi penyumbang utama dalam struktur PDB, penurunan kontribusi industri manufaktur tidak mampu diantisipasi oleh pemerintah.

Baca :  Impor Smartphone Mulai Berkurang

“Data-data di atas telah menunjukkan betapa signifikannya peranan sektor industri manufaktur bagi perekonomian nasional. Namun, arus deindustrialisasi sepertinya sulit dikelola oleh pemerintah. Kondisi industri nasional semakin tertekan karena hadirnya industri 4.0, yang akan mengubah tatanan industri. Untuk sampai pada industri 4.0, perlu ada investasi besar dan kapasitas yang mumpuni, yang selama ini sulit terjadi di Indonesia. Dengan rendahnya kualitas SDM, industri 4.0 akan menyebabkan lonjakan pengangguran,” tutup Ecky.