Soal Kereta Cepat, Presiden Utus Sofyan Djalil Temui PM Jepang

Ilustrasi Kereta Api Cepat

JAKARTA-Presiden Joko Widodo telah menugaskan Menteri PPN/Kepala Bappenas Sofyan Djalil untuk menemui PM Jepang Shinzo Abe untuk menyampaikan keputusan pemerintah terkait dengan rencana pembangunan high speed train atau kereta api cepat Jakarta-Bandung. Selain ke Jepang, Presiden Jokowi juga mengirimkan utusan khusus menemui Pemerintahan China (RRT) terkait dengan hal itu.

“Semalam, Presiden mengutus utusan khusus Pak Sofyan Djalil bertemu dengan PM Shinzo Abe dan juga mengutus utusan khusus untuk bertemu dengan Pemerintah China,” kata Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung Wibowo kepada wartawan, di kantor Kepresidenan, Jakarta, seperti dikutip dari laman setkab.go.id Selasa (29/9).

Jepang dan China sebelumnya telah mengajukan proposal  proyek kereta cepat Indonesia yang diwacanakan sekelas “Shinkansen” dengan kecepatan 300 kilometer per jam untuk melayani rute Jakarta-Bandung.

Baca :  Dijamin, 5 Tahun Lagi Sumatera Bebas Pemadaman Listrik

Untuk rute Jakarta-Bandung, kereta cepat diperkirakan mampu memangkas waktu tempuh perjalanan dua hingga tiga jam, menjadi sekitar 37 menit. Dalam dokumen studi kelayakan Jepang, juga terdapat wacana rute kereta cepat ini akan melayani konektivitas ke Cirebon bahkan hingga Surabaya.

Namun pemerintah telah memutuskan menolak proposal kedua negara itu dengan alasan 3 hal prinsip, yaitu proyek tersebut akan lebih baik bersifat business to business (B to B), tidak membebani APBN, dan tidak ada jaminan pemerintah.

“Kita tidak ingin beri beban pada APBN. Jadi, sudah saya putuskan bahwa kereta cepat itu tidak gunakan APBN. Tidak ada penjaminan dari pemerintah. Oleh sebab itu, saya serahkan kepada BUMN untuk melakukan yang namanya B to B, bisnis,” kata Presiden Jokowi  saat mengunjungi warga di Kelurahan Rawa Badak Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Kamis (3/9) lalu.

Baca :  Jokowi: Jangan Pesimis, Tahun 2030, Indonesia Masuk 10 Negara Terkuat

Dalam waktu dekat jelasnya, pemerintah akan secara resmi mengumumkan langkah yang akan diambil terkait kelanjutan pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung itu. Karena pada rapat terakhir, yang diberikan kewenangan untuk  menyampaikan kepada masyarakat adalah Menko Perekonomian selaku Ketua Tim Penilai.

“Beranjak dari 3 prinsip tadi, kalau kemudian ada Peraturan Presiden (Perpres) atau instrumen apapun yang akan dikeluarkan ini pasti tidak secara langsung berkaitan dengan penunjukan salah satu yang akan dimenangkan,” jelasnya.

Soal keberatan Jepang dengan 3 prinsip pemerintah? Pramono menjelaskan ketiga prinsip itu sudah menjadi keputusan pemerintah. “ Jadi itu yang menjadi prinsip,” tegasnya.

Saat ditanya wartawan siapa utusan khusus yang dikirim Presiden Jokowi ke China, Seskab Pramono Anung mengaku tidak hafal. “Pokoknya ada,” tukasnya.

Baca :  Kupang Berpotensi Hasilkan Garam Industri, Pemerintah Pacu Investasi

Menurut Seskab, pemerintah sudah mengambil sikap bahwa kecepatan untuk kereta api cepat Jakarta-Bandung yang semula direncanakan 300 kilometer/jam itu diturunkan.

“Mengenai berapanya, ini dihitung lagi. Tapi yang jelas diturunkan,” tegas Pramono.