Bertha: Islam Agama Yang Demokratis

Bertha: Islam Agama Yang Demokratis

0
BERBAGI
Penyanyi senior yang juga instruktur vocal Etha Herawati

JAKARTA-Penyanyi senior yang juga instruktur vocal Etha Herawati yang akrab dipanggil dengan Bertha mengeritik keras sikap sekelompok orang yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan politik jangka pendek. Pasalnya, Islam itu agama yang sangat demokratis serta toleran terhadap siapapun dan apapun. “Dalam Alquran itu disebutkan ‘ bagimu agamamu, bagiku agamaku. Ini artinya, bagimu keyakinanmu, bagiku keyakinanku,” ujar Bertha di Jakarta, Jumat  (26/1).

Ayat itu kata Bertha sebenarnya sudah cukup untuk memberikan signal kepada anak bangsa bahwa perbedaan sikap dalam hidup bermasyarakat itu sangat wajar. Ini artinya, budaya hormat menghormati itu harus dijunjung tinggi. “Apapun yang dilakukan oleh kelompok lain harus dihormati,” jelasnya.

Karena itu, Bertha sangat menentang keras jika ada upaya pemaksaan kehendak terhadap sesama anak bangsa yang dilakukan oleh kelompok tertentu. Pasalnya, upaya tersebut dapat mengoyak rasa kebangsaan.

Seperti diketahui, beberapa perempuan pendukung Ahok yang berjilbab pernah diteror agar membuka hijabnya. Padahal, mereka benar beragama Islam.

Menurut Bertha, sikap seperti itu tidak boleh ada di bumi Indonesia. Sebab, pendiri bangsa ini sudah sepakat bahwa negara ini dibangun diatas kemajemukan.

Pluralisme ini sebuah keniscyaan yang tidak dapat dinafikan. “Kalau saya menjadi orang yang berhijab lalu memberikan dukungan kepada orang yang saya yakini bisa menjadi abdi rakyat, pelayan rakyat, sama-sama bertujuan mencapai kemaslahatan umat, kenapa saya harus diganggu. Berarti mereka merasa teranganggu kan.  Sebenarnya niatan mereka yang merasa terganggu di negeri ini, apa sih?,” ujarnya dengan nada tanya.

Dia mengaku, sejak 6 bulan terakhir merasa betapa tidak nyamannya untuk menentukan pilihan. Namun dia berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari kondisi ini. Sebab, jika terus bersembunyi maka lama kelamaan akan ditindas.  Makanya, Bertha menggunakan hak pilihnya. “Ketidaknyaman untuk membicarakan satu kelompok hanya karena satu golongan menginginkan negara ini harus mengikuti apa yang mereka inginkan. Saya berpikiran, jika saya takut lalu bersembunyi maka saya akan diinjak-injak,” imbuhnya.

Maka, sebagai perempuan Indonesia, Bertha siap melakukan perlawanan. “Saya menjadi ibu karena mampu melahirkan. Bukan laki-laki yang mampu melahirkan. Sebagai ibu, saya  selalu mengingatkan, jangan ganggu kami, termasuk anak saya dan teman-teman saya. Karena saya tidak takut melawan siapapun yang mengganggu,” tegasnya.

Dia menjelaskan, dalam alam demokrasi, setiap orang mempunyai hak untuk menentukan pilihan politiknya. Sebab, demokrasi tidak bermutu jika pemaksaan kehendak ini terus dipertontonkan dihadapan publik. “Awalnya, saya skeptis, tidak mendukung siapapun. Toh hasilnya seperti ini. Jujur, saya memberikan dukungan ini gara-gara pak Ahok mau belajar menyanyi. Ketika pak Ahok belajar menyanyi maka dia menghargai sebuah keindahan menuju keselarasan,” jelasnya.

Dia mengatakan dampak keselarasan ini akan bersinggungan dengan banyak aspek. “Misalnya, keselarasan dalam sosialisasi, selaras dalam berkomunikasi dan selaras dalam menjalankan apapun secara bersama-sama. Ketika pak Ahok ingin belajar bernyanyi maka menjadi sebuah bukti bahwa orang ini mau belajar. Ini sebuah kemajuan yang sangat positif. Menyanyi itu bagian dari public speaking. Harapannya, setelah belajar menyanyi gaya komunikasi pak Ahok lebih lembut lagi,” pungkasnya.