Ketersediaan Infrastruktur Jawa Barat Dorong Iklim Investasi

18

BANDUNG-Pelaku industri memperhatikan tiga aspek dalam menjalankan operasional bisnisnya, yakni aspek ekonomi, lingkungan, dan aspek sosial.

“Kehadiran investor di sektor industri di Indonesia wajib menyediakan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat sehingga, investasi membawa multiplier-effect bagi kesejahteraan masyarakat. Apalagi, masyarakat lokal, harus jadi tuan rumah di kotanya sendiri,” kata Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil (Emil) seusai acara 2019 Group Groundbreaking Ceremony for Karawang New Industry City (KNIC) Tenants di kawasan KNIC, Karawang, Kamis, (20/6/2019).

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, ada sekitar 90 kawasan industri yang beroperasi di Indonesia. Mayoritas berada di Jawa Barat dengan 25 kawasan industri dan data tersebut menunjukkan bahwa Tanah Pasundan menjadi primadona bagi para investor untuk berinvestasi.

Gubernur Emil mengatakan hal tersebut tidak lepas dari tingginya minat investasi di sektor industri dan guna menunjang kondisi tersebut, kata dia, ketersediaan infrastruktur yang memadai mesti menjadi atensi. “Fasilitas infrastruktur seperti pelabuhan, bandara, jalan tol, kereta api, kereta api cepat, dan lain sebagainya, kami terus bangun untuk mendorong majunya iklim investasi di Indonesia, khususnya di Jawa Barat,” katanya.

Dia mengatakan, pihaknya berkomitmen mendukung tumbuh kembang iklim investasi di Jawa Barat dan mendorong industri yang sustainable atau berkelanjutan. “Ujung-ujungnya Insya Allah nanti kita negara maju, dalam 26 tahun jadi negara adidaya dengan konsep industri yang sustainable,” kata Emil.

Gubernur Emil berharap pengembangan KNIC menjadi momentum untuk pembangunan kawasan industri berkelas dunia di Jawa Barat. Kehadiran sejumlah investor di KNIC diharuskan mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar, Jawa Barat, dan Indonesia.

Dalam ground breaking kali ini, enam perusahaan mulai membangun pabrik di KNIC. Keenam perusahaan tersebut adalah PT Wonderful Food International (Cina), PT Binamitra Kwartasedaya (Indonesia), PT Ikimura Indotools Center (Jepang), PT Wook Global Technology (Cina), PT Brightgene Biomedical Indonesia (Taiwan dan Indonesia), serta PT Ruiyuan (Cina).

Perusahaan-perusahaan tersebut bergerak di berbagai sektor, mulai dari pembuatan permen, komponen otomotif, e-commerce, bio-medis, hingga rekayasa konstruksi dan pengembang real estate.

“Hari ini penting, karena investor itu bisanya mendengarkan berita. Kalau beritanya positif, biasanya nanti datang tamu-tamu lain melakukan hal yang sama (berinvestasi),” pungkasnya.