Pengaruh Ketidakpastian The Fed

27

JAKARTA-Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (2/7) diperkirakan bergerak stagan karena respon negatif pelaku pasar global terhadap ketidakpastian soal rencana program stimulus keuangan dari Bank Sentral Amerika Serikat (AS) . “Rupiah diperdagangkan dikisaran 9.900-9.940 per dollar AS,” ujar analis valas PT Bank Saudara Tbk, Rully Nova di Jakarta, Senin (1/7)/.

Menurut dia, tekanan terhadap rupiah masih bersumber dari eksternal.  Terutama,  sikap pelaku pasar global yang masih menunggu terkait program stimulus Federal Reserve (The Fed), apakah diteruskan atau dihentikan. Ketidakpastian ini membuat investor global enggan melakukan transaksi bisnisnya dan kembali mengoleksi aset-aset berisiko, termasuk mata uang Asia. “Hal ini menjadi salah satu faktor pendorong nilai tukar domestik berada dalam area negatif,” jelas dia.

Dia mengatakan jika The Fed akan melanjutkan stimulus keuangannya maka diperkirakan rupiah dapat kembali menguat terhadap dollar AS.

Selain itu, dia menilai tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh kecemasan pasar atas capital outflow   dari negara-negara berkembang yang hingga kini masih bisa berlanjut termasuk dari Indonesia karena itu perlu diwaspadai.  Apalagi belum ada kepastian mengenai solusi dari pemerintah China terhadap pengetatan kredit.  “Memang ada pernyataan dari pejabat People’s Bank of China (PBoC)  bahwa ada suntikan likuiditas bagi bank-bank di China tapi tidak dalam waktu dekat. Karena itu, dari sentimen saat ini, banyak ketidakpastian,” tutur dia.

Begitu juga jika melihat data-data yang akan dirilis di dalam negeri awal Juli ini yang masih memberikan tekanan terhadap rupiah. Antara lain, inflasi dan ekspor-impor.

Menurut dia, terbatasnya ruang pergerakan rupiah juga sebagai dampak dari tidak adanya sinergi antara membaiknya sentimen global dengan kebijakan moneter dalam negeri. Akibatnya, pasar tampak kurang kondusif di mata investor. “Kebijakan moneter dinilai tidak menarik sehingga pergerakan rupiah datar di kisaran yang sempit,” ucap dia.

Namun demikian kata dia, penjagaan ketat yang dilakukan Bank Indonesia (BI) menyelamatkan rupiah sehingga tidak menembus level psikogisnya. “Intervensi BI menyelamatkan rupiah,” pungkas dia