PII Indonesia Kembali Menurun

PII Indonesia Kembali Menurun

48
0
BERBAGI
Ilustrasi

JAKARTA-Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia mencatat net kewajiban sebesar USD321,0 miliar (34,4% terhadap PDB) pada akhir triwulan IV 2016, turun USD23,8 miliar dari posisi net kewajiban pada akhir triwulan III 2016 yang sebesar USD344,7 miliar (38,1% terhadap PDB). Penurunan net kewajiban PII Indonesia tersebut disebabkan oleh penurunan Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) yang melampaui penurunan Aset Finansial Luar Negeri (AFLN).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Tirta Segara menjelaskan, posisi AFLN Indonesia pada akhir triwulan IV 2016 turun 6,8% (qtq) atau sebesar USD21,7 menjadi USD296,5 miliar. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh penurunan AFLN pada investasi langsung dan investasi lainnya. “Penurunan investasi langsung aset antara lain dipengaruhi oleh divestasi aset terkait round-tripping investasi langsung,” terangnya.

Sementara itu ujarnya, penurunan aset pada investasi lainnya terkait dengan penarikan simpanan sektor swasta domestik pada bank di luar negeri. Penurunan posisi AFLN lebih lanjut sedikit tertahan oleh posisi cadangan devisa yang mencatat peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Adapun posisi KFLN Indonesia pada akhir triwulan IV 2016 turun 6,9% (qtq) atau sebesar USD45,4 miliar menjadi USD617,5 miliar. Penurunan tersebut didorong oleh penurunan KFLN pada investasi langsung, investasi portofolio, dan investasi lainnya. Penurunan posisi KFLN tersebut terutama disebabkan oleh penurunan nilai instrumen investasi berdenominasi rupiah sejalan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan penguatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah dan mata uang lainnya pada triwulan laporan.

BI memandang perkembangan PII Indonesia sampai dengan triwulan IV 2016 masih cukup sehat. Namun, BI terus mewaspadai risiko net kewajiban PII terhadap perekonomian. “Ke depan, BI berkeyakinan kinerja PII Indonesia akan semakin sehat sejalan dengan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang ditempuh BI,” pungkasnya.