Pilkades Jadi Penentu Kemenangan Di Dapil

33
beritasulsel.com

JAKARTA-Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Golkar Muhammad Misbakhun menceritakan bagaimana beratnya perjuangan masuk menjadi anggota legislatif. Apalagi pertarungan di Jawa lebih ketat dibanding luar Jawa. “Saya bandingkan dengan teman saya dari Kaltara yang jumlah penduduknya hanya 600.000 orang. Sedangkan Dapil saya (Probolinggo Pasuruan) penduduknya mencapai 2,7 juta orang,” katanya dalam Sekolah Politik Nasional (SPN) ICMI di Hotel Discovery, Ancol, Jakarta, (9/12/2016).

Menurut Misbakhun, saat ini pilkades menjadi salah satu ukuran perjuangan dan tantangan beratnya menjadi anggota DPR. “Pilihan pilkades jadi ukuran, karen penentu juga ke depan. Begitu masuk desa, maka terukur seberapa kuat kita di desa itu,” ujarnya.

Menjadi anggota DPR, kata anggota Fraksi Partai Golkar, tidak hanya membutuhkan dana besar saja, namun juga harus memiliki gagasan dan ide besar. “Meski nama kita sudah kuat (terkenal) tapi tidak kuat di Dapil, saya jamin wassalam,” tambahnya.

Oleh karena itu, lanjut Misbakhun, menjadi anggota DPR dituntut bisa menguasai pemahaman yang cakap. Hal ini untuk mengimbangi ekskutif yang begitu kuat kewenangan dan pemikirannya. “Saya tak begitu setuju kalau anggota DPR ke luar negeri itu diprotes, karena ke luar negeri itu kita banyak dapat informasi yang lebih banyak,” tuturnya.

Dikatakan Misbakhun, DPR itu fasilitasnya minim, begitu juga dengan anggaran sangat minim dibanding anggaran eksekutif. “Kelihatannya saja dari luar terkesan wah,” ucapnya singkat.

Lebih jauh Misbakhun menceritakan liku-liku jadi legislator. “Uang reses yang saya terima hanya Rp250 juta. Dalam sekali pertemuan biasanya hadir 2000 orang. DPD memerintahkan 4 kali pertemuan. Kalau dihitung-hitung saya selalu nombok kali mau buat program reses,” pungkasnya.***