Presiden dan Budayawan Sepakat Susun Kebijakan Makro Kebudayaan Indonesia

28
Presiden Jokowi berdialog dengan para budayawan di Galeri Nasional, Jakarta, Selasa (23/8)

JAKARTA-Presiden Joko Widodo menaruh perhatian yang sangat besar pada pengembangan kebudayaan nasional.  Hal ini tercermin pada komitennya menyusun kebijakan makro kebudayaan Indonesia. Kerangka makro ini dibuat guna menumbuhkan kembali kesustraan nasional serta menguatkan kembali diplomasi budaya. Sehingga, pusat-pusat kebudayaan tidak hanya muncul di kota, tapi juga di daerah dan juga di desa.

Dalam dialog bersama budawayan selama hampir 2 jam itu, Presiden mengaku mendapatkan masukan (input) dari budayawan mengenai proses pembudayaan manusia-manusia Indonesia. “Kita kan selalu terlalu sering berbicara masalah infrastruktur yang keras. Mengenai jalan, mengenai jembatan, mengenai pelabuhan, tidak pernah kita berbicara mengenai infrastruktur lunak, yaitu kebudayaan,” ujar Presiden usai menggelar dialog dengan budayawan nasional, di Galeri Nasional, Jakarta, Selasa (23/8).

“Padahal harus ada keseimbangan. Ini keseimbangan, antara infrastruktur yang keras dan infrastruktur yang tidak keras. Inilah tadi yang kita berbicara dengan beliau-beliau para budayawan,” kata Presiden.

Presiden berharap nanti ada tahapan menuju ke proses mendesain kebijakan makro kebudayaan kebudayaan Indonesia. Untuk itu, kebijakan makro kebudayaan Indonesia akan dirumuskan bersama-sama. “Saya juga tadi minta tolong, minta masukan agar arahnya itu betul karena kita harus memulai itu. Jangan terus kita berbicara masalah ekonomi, masalah politik. Kita lupa bahwa ada sisi budaya, sisi kebudayaan yang juga harus kita perhatikan,” tegasnya.

Kepala Negara mengaku banyak sekali mendapat masukan dari pada budayawan. “Ini coret-coretannya sampai sini, sampai seperti ini. Saya kira banyak sekali nanti kebijakan makro kebudayaan kita dalam rangka proses pembudayaan manusia,” jelas Presiden.

Meski demikian, Presiden mengaku beberapa daerah sulit untuk mengespresikan budaya dengan baik. Salah satu penyebabnya, tidak ada infrastruktur budaya di sana.“Mungkin tidak ada, misalnya, tidak ada taman budaya, misalnya. Tidak ada pusat kebudayaannya mau dimana? Mau dimana? Tidak ada ruang budaya, mau dimana? Inilah yang segera kita rumuskan, akan segara nantinya bisa dilaksanakan,” kata Presiden.

Para budayawan yang hadir dalam dialog dengan Presiden Jokowi itu antara lain Radhar Panca Dhana, Edi Sedyawati, Sri Edi Swasono, Jim Supangkat, Ishak Ngeljaratan, Arswendo Atmowiloto, Frans Magnis Suseno, Sutanto Mendut, Jean Couteau, Toety Herati, Al Azhar, Tatang Ramadhan Bouqie, Edy Utama, Teuku Kemak Fasya, Garin Nugroho, Sys Ns, Djadoeg Ferianto, Nasirun, Ahmad Tohari, Butet Kertaredjasa, Sardono Waluyo Kusumo, Ong Zamzam Noer, Mukhamad Khasan, Ita Siregar, Edi bachroelhadi, Krisniati Marchelina, Bambang Pribadi, Sri Warso.