Priyono Hadi: Mental Bangsa Dimulai Dari Buku

Priyono Hadi: Mental Bangsa Dimulai Dari Buku

13
0
BERBAGI
JB Priyono Hadi - mantan Direktur Penerbitan Penerbit Kanisius Yogyakarta

YOGYAKARTA- Pendidikan mental bangsa dimulai dari buku. Mental bangsa seperti apa yang akan ditanamkan generasi penerus bisa dilihat dari buku-buku yang diterbitkan ketika anak-anak masih dalam fase belajar. Dalam konteks ini, penerbit memegang peranan penting dan sekaligus bertanggung jawab dalam pendidikan serta perkembangan pendidikan mental bangsa. Oleh karena itu, penerbit buku tidak boleh berperilaku seperti toko buku yang sering mengabaikan konten buku.

Demikian diungkapkan oleh mantan Direktur Penerbitan Penerbit Kanisius Yogyakarta, JB Priyono Hadi dalam pertemuannya dengan Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), AM Putut Prabantoro di Yogyakarta, Jumat (6/1) lalu.

Penerbit Kanisius Yogyakarta adalah penerbit tertua di Indonesia yang berdiri pada 26 Januari 1922.

Priyono menjelaskan, semua anak akan mengalami fase belajar. Dalam fase belajar ini yang paling banyak menjadi sorotan orang tua adalah fase belajar membaca karena di situlah pintu gerbang utama anak untuk memasuki dunia luas. Kekeliruan dalam menghidangkan konten kepada anak dalam buku yang dibaca akan berdampak panjang pada pendidikan serta perkembangan anak yang kelak kemudian hari juga berdampak pada masa depan bangsa. “Semua anak di manapun akan dan harus belajar membaca. Dengan membaca itulah, pintu gerbang dunia luas terbentang. Namun yang menjadi permasalahan adalah, buku apa yang dibaca dan apa isinya ? Pemerintah dan tokoh nasional harus peka soal ini karena terkait dengan masa depan bangsa dan negara. Penerbitan buku bukan soal proyek tetapi soal masa depan bangsa,” ujar Priyono.

Jika saat ini bangsa Indonesia resah dengan masa depannya, demikian ditambahkan Priyono, pertama kali yang harus dilakukan adalah melihat kembali terbitan buku anak-anak sekolah setidaknya dalam dua dasa warsa ini ke belakang. Atau juga orang tua yang resah dengan perkembangan anak-anaknya ketika menginjak masa akil balik, disarankan, untuk melihat kembali buku-buku apa saja yang sudah dibaca sejak pendidikan taman kanak-kanak. Priyono meyakini, dengan mereview semua buku terbitan 20 tahun yang lalu, bangsa ini akan menemukan akar permasalahannya yang sekarang dihadapi.   “Apa yang dibaca oleh anak ketika masih tahap belajar akan tertanam selama pertumbuhannya dan menjadi pegangan dalam pendidikan selanjutnya. Keprihatina terjadi ketika konten kemudian menjadi tidak penting ketika penerbitan sebuah buku menjadi sebuah proyek. Atau juga, pemerintah atau instansi terkait tidak memberi pengawasan secara benar atas sebuah naskah yang diterbitkan. Tanpa disadari, masa depan bangsalah yang sebenarnya dipertaruhkan. Dan ini merupakan awal dari seluruh permasalahan bangsa ini dalam 20 tahun kemudian,” ujarnya.

Lebih jauh dijelaskan Priyono, permasalahan serius muncul ketika sebuah penerbit kemudian juga berperilaku seperti toko buku yang dipatok oleh target dan kemudian melakukan berbagai strategi pemasaran berbasiskan target rupiah. Penting bagi sebuah penerbit memiliki dan berpegang teguh pada visi misi untuk ikut mencerdaskan dan sekaligus  dalam pembangunan mental bangsa. “Visi misi itu merupakan komitmen. Oleh karena itu, visi misi itu harus dipegang teguh oleh generasi baru pengambil keputusan sebuah institusi penerbitan. Hanya dengan cara demikian, sebuah penerbitan ikut serta dalam pembangunan mental bangsa. Jika hal itu tidak dilakukan, sebuah buku hanya akan menjadi sebuah proyek dan kelak kemudian masa depan bangsa yang dipertaruhkan,” tegas pria yang sederhana ini.