Sambut Dies Natalis ke-51, Usakti Gelar Seminar Migas

60

JAKARTA-Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-51 Universitas Trisakti (Usakti), Fakultas Hukum bersama dengan Fakultas Teknik Kebumian dan Energi bersinergi untuk menyelenggarakan seminar nasional dengan topik actual, yaitu “Investasi Sektor Hulu Migas: di Indonesia dan United Kingdom” (Oil and Gas Upstream Investment: in Indonesia and united Kingdom). Dipilihnya tema ini karena sampai saat ini kondisi pasar global sektor hulu migas masih belum menunjukkan perkembangan yang cukup berarti, bahkan cenderung menurun.

Demikian ditegaskan oleh Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Trisakti, DR. Anna Maria Tri Anggraini, SH, MH dalam keterangannya, Minggu (13/11).

Menurut Anna Maria, kompleksitas sektor migas mendorong pihak penyelenggara menghadirkan beberapa narasumber yang ahli di bidang tersebut, dari unsur pemerintah, akademisi asing maupun nasional.  “Diantaranya, Sampe L. Purba (Kepala Divisi Komersialisasi Gas Bumi SKK Migas), Emre Usenmez (The School of Law Aberdeen University), Hikmahanto Juwana (Fakultas Hukum Universitas Indonesia) dan Trijana Kartoatmojo (Fakultas Teknik Kebumian dan Energi Universitas Trisakti),” jelasnya. Seminar yang disajikan dalam bahasa Inggris ini, merupakan bentuk kerja sama antara Universitas Trisakti dan University of Aberdeen, dihadiri oleh kalangan praktisi (unsur pengusaha migas dan lawyer) maupun akademisi (dosen dan mahasiswa berbagai perguruan tinggi di wilayah Jabodetabek).

Selain bertujuan untuk sharing knowledge, Mantan Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memaparkan seminar ini juga dimaksud untuk memahami lebih jauh masalah aktual yang dihadapi investor migas, serta bentuk kerja sama investasi yang ideal, sehingga membawa manfaat bagi pengembangan bisnis strategis ini.

Sebab fakta menunjukkan industri minyak dan gas bumi di Indonesia sudah berada pada tahap kritis, produksinya terus menurun, sementara permintaan terus meningkat dalam beberapa dasawarsa terakhir.

Pakar Hukum Ekonomi ini menambahkan kegiatan eksplorasi dan pencarian sumber migas baru sudah sangat rendah, jumlah pengeboran sumur baru dalam beberapa tahun terakhir sangat sedikit dan belum ada temuan migas yang signifikan. “Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya kondisi geologis sumber migas yang kompleks dan keterbatasan data penunjang,” paparnya. Selain itu, demikian Anna Maria, aturan dan kebijakan fiskal yang dibuat pemerintah dianggap kurang menarik bagi investor.

Ia menegaskan situasi tersebut diperparah dengan tren penurunan harga minyak yang sudah terjadi sejak pertengahan 2014, yang hingga saat ini belum kembali normal. Antusisme peserta diskusi yang memenuhi ruang Suherman di Gedung H lantai 2 Kampus A Grogol ini menunjukkan, bahwa diperlukan tindakan nyata dari semua kalangan pemangku kepentingan (stakeholders) terutama melalui regulasi/kebijakan pemerintah, agar investasi sektor hulu migas bergairah kembali.