SMRC: Ahok Belum Dapat Penantang Sepadan

SMRC: Ahok Belum Dapat Penantang Sepadan

22
0
BERBAGI
dok SMRC

JAKARTA-Peta kekuatan politik menjelang pemilihan Gubernur DKI Jakarta terus berubah. Meskipun sejumlah nama tokoh telah mengemuka, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) masih belum mendapatkan lawan seimbang. Selisih elektabilitasnya dengan saingan terdekatnya masih jauh, di atas 30%.

Demikian hasil Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilaksanakan pada tanggal 24 hingga 29 Juni 2016.
Dalam simulasi terbuka, secara spontan, mayoritas belum menyebutkan pilihannya (54,4%), Ahok mendapat elektabilitas terbanyak 36,6%, cukup jauh di atas Yusril Ihza Mahendra 2,8%, Sandiaga Uno 2,1%, dan calon lain di bawah 1%.

Dalam simulasi semi terbuka (responden diberi daftar nama 22 calon untuk dipilih, dan boleh memilih nama lainnya di luar daftar). Ahok tetap yang paling tinggi, sudah mayoritas, 53,4%. Kemudian Yusril Ihza Mahendra 10,4%, Tri Rismaharini 5,7%, Sandiaga Uno 5,1%, Yusuf Mansur 4,6%, dan calon lain di bawah 3%.  Yang tidak tahu sebanyak 9,4%.

Survei SMRC ini mengungkap beberapa temuan penting untuk dijadikan bahan masukan bagi public DKI Jakarta mengenai politik DKI ke depan.

Diantara temuan-temuan menarik mencakup: dukungan public terhadap tokoh-tokoh yang mungkin jadi penantang Ahok, hubungan kinerja dengan dukungan pemilih terhadap petahana, factor-faktor yang mempengaruhi perubahan peta dukungan, sikap pemilih terhadap Ahok jika tetap maju dari jalur independen atau partai politik dan arah dukungan para pemilih partai politik.
Hingga survey ini dilaksanakan, akhir Juni 2016, belum ada satu pun partai politik yang secara definitif mengajukan calonnya untuk maju menjadi penantang petahana. “Ini pertanda, Ahok belum punya penantang yang sepadan,”  ujar Direktur Program SMRC, Sirojudin Abbas.

Dijelaskannya, dibanding survei bulan Agustus 2015, elektabilitas kepada Ahok naik cukup tinggi. Survei ini menemukan bahwa kenaikan ini terkait dengan membaiknya persepsi pemilih DKI Jakarta terhadap kinerja Ahok. “Dalam simulasi spontan, elektabilitasnya naik 12,2%. Dan dalam simulasi semi terbuka naik 16,2%. Hal ini tidak lepas dari perubahan peta politik Jakarta yang dinamis. Misalnya, Ridwan Kamil yang menyatakan tidak akan maju sangat berpengaruh terhadap peta elektabilitas,” terangnya.

Tingginya elektabilitas Ahok juga tidak lepas dari penilaian warga atas kinerjanya sebagai gubernur petahana. Mayoritas warga, 69,7% sudah merasa puas dengan kerja Ahok selama ini.  Semakin banyak dibanding survei di bulan Agustus 2015, saat itu warga yang puas 63%.

Warga yang menginginkan Ahok kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta juga semakin banyak. Dalam survei di bulan Juni 2016, warga yang ingin Ahok kembali menjadi gubernur 58%, sedangkan dalam survei di bulan Agustus 2015 baru 49%.