Survei Median: Ahok-Djarot Masih Terkuat

39
Cagub DKI Jakarta Ahok-Djarot

JAKARTA-Media Survei Nasional (Median) melakukan jajak pendapat untuk mengetahui peta kompetisi antar kandidat pasca proses pendaftaran Calon Gubernur & Wakil Gubernur DKI Jakarta serta mengelaborasi perilaku pemilih Pilgub DKI.

Hasil survei ini menunjukkan tingkat elektabilitas pasangan cagub DKI incumbent Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat masih jadi kandidat terkuat dengan elektabilitas 34,2%. Sementara elektabilitas pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno saat ini sebesar 25,4%, ditempel ketat oleh Agus Harimurti Yudhoyono- Sylviana Murni  dengan angka 21%. “Bila tren elektabilitas berlanjut seperti sekarang setidaknya Pilkada bisa terjadi dalam dua putaran dan Ahok bisa kesulitan untuk menang di putaran kedua,” kata Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, dalam paparan hasil survei di Restoran Bumbu Desa, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (5/10).

Populasi survei ini seluruh warga DKI Jakarta yang memiliki hak pilih dengan margin of error sebesar +/- 4,4% pada tingkat kepercayaan 95%. Sampel dipilih secara random dengan teknik multistage random sampling dan proporsional atas populasi kotamadya dan gender. Hasil survei menunjukkan dinamika politik yang terjadi selama masa pengambilan data dari  26 September 1 Oktober 2016.

Pasca pendaftaran calon Gubenur & Wakil Gubenur DKI Jakarta, konstalasi persaingan menuju kursi DKI 1 semakin menarik untuk di amati. Terlebih dalam proses konsolidasi partai politik dan pebentukan koalisi, ada banyak dinamika dan kejutan yang terjadi.

Meski popularitas Ahok masih moncer, survei secara berkala menunjukkan adanya konsistensi penurunan suara Ahok.

Dijabarkan Rico bahwa elektabilitas Ahok pada Desember 2015 masih tinggi, yaitu berada di angka 50 persen. Namun di bulan Februari, turun 46 persen dan kembali merosot di April 2016 dengan angka 38,9 persen  dan September 2016 (34,2%). “Penurunan Ahok terasa tajam saat memutuskan meninggalkan jalur independen. Dari 100% pemilih Ahok, ada 71,2% yang menginginkan Ahok maju dari jalur independen, sementara ada 23,1% menginginkan Ahok maju dari jalur partai politik,” ujarnya.

Dia menjelaskan, dari semua kelemahan yang dimiliki pasangan  Ahok-Djarot, data motif pemilih menunjukkan bahwa Ahok masih dianggap paling kompeten. Terbukti, dari 100% pemilih, yang menilai kandidat berkinerja  bagus, 48.3% memilih Ahok-Djarot dibanding Anies-Sandi yang 25% dan Agus-Sylvi 16.7%.

Karena itu, bila Ahok-Djarot konsisten dengan isu kompetensi bukan tidak mungkin tren positif bisa kembali dirasakan Ahok. Putra Belitung ini bisa saja rebound atau menaikkan kembali elektabilitasnya bila fokus  mensosialisasikan  keberhasilan  kinerjanya.

Namun musuh besar Ahok adalah dirinya sendiri. Secara kinerja masih banyak yang menganggap Ahok berkinerja baik,  hanya saja banyak karakternya yang tidak disukai public.

Sedangkan Anies Baswedan merupakan representasi dominan dari pemilih yang ingin ada perubahan di Jakarta. Namun Anies memperbaiki dan menyusun tawaran program yang jelas.

Agus Harimurti Yudhoyono seperti rising star dalam Pilgub ini dengan manwarkan daya tarik personal dan nama besar Yudhoyono. “Hanya saja tentu pemilihan yang masih beberapa bulan k depan tidak hanya bisa dimenangkan dengan daya tarik individual.  Agus harus beradu gagasan dengan dua kandidat lainnya,” pungkasnya