Tol Laut Tak Berdampak Harga Komoditas Meroket

18
photo: dok koransawala.com

JAKARTA-Program tol laut dinilai mubazir karena tidak berdampak signifikan terhadap penurunan harga barang. Program pemerintah itu justru menafikan peran swasta yang selama ini sudah melayani pelayaran hingga ke pelosok daerah.

Anggota Komisi VI DPR RI Bambang Haryo Soekartono mengatakan pemerintah seharusnya memelihara transportasi laut yang sudah berjalan dengan baik, didukung lebih dari 14.000 kapal swasta dan sebagian kecil kapal pemerintah. “Selama ini, yang membuat distribusi logistik antarpulau menjadi lebih murah bukan karena tol laut, tetapi peran swasta yang besar. Mereka tersebar, sudah melayani secara reguler dan jumlahnya ribuan,” ungkapnya, Selasa (7/6/2016).

Buktinya, tutur Bambang, sebelum ada program tol laut harga barang antara pusat (Jawa) dan daerah sama relatif sama, bahkan di beberapa daerah lebih murah.

Sebagai contoh, per 5 Juni 2017, harga daging di Jakarta mencapai Rp120.000 per kg, sementara di Manado Rp95.000 dan Manokwari Rp100.000 per kg. Demikian juga harga minyak goreng di Ibu Kota masih berkisar Rp12.700 per kg, tetapi di Manado Rp11.100 dan di Jayapura Rp12.000 per kg.

Dia mengatakan tol laut tidak akan mampu menekan harga karena armada, jalurnya dan jadwalnya sedikit. “Kalau jadwalnya berminggu-minggu sama saja bohong. Kalau cuma satu atau dua kapal, tidak ada pengaruh pada harga barang,” ucapnya.

Menurut Bambang, manfaat tol laut terlalu dibesar-besarkan pemerintah, padahal program itu mubazir dan hanya menghambur-hamburkan anggaran negara yang terbatas. “Harusnya berikan saja subsidi ke swasta agar mereka jalannya lebih tepat waktu dan reguler, tidak usah bangun kapal baru dengan investasi sangat besar. Daripada begitu, anggarannya untuk keruk alur pelayaran yang sudah dangkal,” ujarnya.

Dia mengatakan Indonesia sesungguhkan sangat beruntung karena memiliki laut lebih luas dari daratan atau pulau sehingga infrastruktur transportasi/logistik bisa menjadi lebih murah.
“Karena ada laut sebagai prasarana transportasi, pemerintah tidak perlu bangun infrastruktur jalan raya dan mengeluarkan biaya rutin untuk pemeliharaan tiap tahun yang mencapai Rp100 triliun lebih, sehingga otomatis harga logistik menjadi lebih murah,” jelasnya.

Dia memberikan contoh, tarif pelayaran menggunakan kontainer dari Jakarta ke Jayapura dengan jarak lebih kurang 5.500 km sekitar Rp15 juta atau hanya Rp2.700 per km. Sebagai perbandingan, ongkos angkut dengan truk dari Jakarta ke Cikarang dengan jarak kurang dari 100 km mencapai Rp2 juta atau Rp20.000 per km.

Bambang mengatakan harga barang dan sembako di daerah pesisir kawasan timur Indonesia yang bisa diakses kapal laut relatif sama dengan daerah lain di kawasan barat, bahkan beberapa jenis barang lebih murah. “Yang menyebabkan harga menjadi mahal karena barang itu diangkut lagi melalui darat atau udara ke daerah pedalaman. Infrastruktur jalan buruk dan tarif pesawat mahal membuat harga naik ratusan kali, sehingga rakyat di pedalaman tidak bisa menikmati hasil pembangunan,” ujarnya.

Menteri Koordinator Bidang Maritim Rizal Ramli sebelumnya mengklaim manfaat tol laut sangat besar, salah satunya berhasil menurunkan harga barang di kawasan timur Indonesia. “Dengan adanya kapal-kapal reguler yang menjadi trayek tol laut, biaya angkutan komoditas menurun. Harga barang-barang juga turun di beberapa lokasi hingga 20% dibandingkan sebelum adanya tol laut,” ungkapnya.

Penurunan harga komoditas itu, kata Rizal, baru terjadi di wilayah sekitar pelabuhan, wilayah pedalaman seperti pegunungan harga barang masih terbilang tinggi. “Diharapkan dengan adanya trayek-trayek pelabuhan ini, ada jembatan laut untuk mendistribusikan barang dan penumpang ke pulau-pulau kecil yang selama ini tidak ada akses transportasi laut,” tutur Menko.