Januari 2015, Deflasi 0,24%

Tuesday 3 Feb 2015, 12 : 46 pm
by

JAKARTA-Indeks Harga Konsumen (IHK) Januari 2015 mencatat deflasi sebesar 0,24% (mtm), yang bersumber dari deflasi kelompok harga yang ditentukan pemerintah (administered prices) dan meredanya tekanan inflasi harga makanan bergejolak (volatile food). Secara tahunan inflasi tercatat sebesar 6,96% (yoy). “Realisasi IHK tersebut relatif sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia (BI) berdasarkan Survei Pemantauan Harga (SPH) mingguan,” ujar Direktur Departemen Komunikasi BI, Peter Jacobs dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (2/2).

Dia menjelaskan deflasi pada kelompok administered prices disebabkan kebijakan Pemerintah menurunkan harga bensin dan solar, pertamax, dan tarif angkutan dalam kota. Kelompok administered prices tersebut mencatat deflasi yang cukup besar dalam bulan Januari yaitu sebesar 3,51% (mtm).

Secara tahunan, katanya inflasi administered prices tercatat sebesar 12,31% (yoy). Sejalan dengan deflasi kelompok administered prices tersebut, tekanan inflasi kelompok volatile food juga mengalami penurunan menjadi 0,55% (mtm) atau 8,35% (yoy) dari 3,53% (mtm) atau 10,88% (yoy) pada bulan sebelumnya.

Penurunan tersebut bersumber dari deflasi aneka cabai. Sementara itu, realisasi inflasi inti masih terkendali di level 0,61% (mtm) atau 4,99% (yoy). Tekanan inflasi inti lebih disebabkan oleh kenaikan harga emas dan kenaikan TTL industri. “Ke depan, BI terus mencermati risiko inflasi terutama di kelompok pangan, berupa gangguan pasokan, antara lain, terkait dengan faktor cuaca. Untuk itu, BI bersama dengan Pemerintah Pusat dan Daerah akan meningkatkan koordinasi untuk menjaga inflasi tetap berada pada sasarannya sebesar 4,0 ± 1% di 2015,” pungkasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

RUU Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN 2018 Disetujui DPR

JAKARTA-Seluruh fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyatakan persetujuannya atas

Najib: Genjot Literasi Keuangan Demi Cegah Korban Investasi Bodong

JAKARTA-Banyaknya masyarakat yang menjadi korban investasi bodong harus menjadi perhatian