Air Mata Buaya Hamidah

Friday 11 Mar 2016, 6 : 22 pm

Ahkirnya publik tersadar, mereka telah salah menilai Hamidah, Hamidah yang di mata mereka miskin, bodoh dan lugu, seorang ibu yang karena alasan ekonomi harus rela memberikan anaknya pada orang lain, ternyata tidaklah selugu seperti  yang mereka kira sebelumnya. Seperti kata quote’”Don’t judge a book by its cover’ Kedok yang diperlihatkan Hamidah selama ini ternyata sekedar untuk menarik rasa belas kasihan publik semata, karena yang sebenarnya ada dalam kepalanya adalah bagaimana dia bisa memanfaatkan kematian Engeline untuk mengangkat dirinya dan keluarganya dari kemiskinan. Bahkan 9 bulan kemudian Hamidah pun masih berusaha menjual kesedihannya pada media, masih mengharapkan belas kasihan, bermodal raut wajahnya yang sudah dipatenkan, raut wajah Hamidah yang selalu kelam, tanpa senyum, cemberut, marah, dan hampir selalu banjir air mata seakan sedihnya tak kunjung juga hilang menangisi kematian Engeline, anak yang pernah dirawatnya sampai umur 3 hari. Tapi kali ini tak ada satu pun publik yang tertipu untuk kedua kalinya.

Screen Shot 2016-03-10 at 15.07.29.png

Apakah penilain publik yang salah tentang Hamidah ini membuat publik sadar dan berpikir, kalau mereka bisa salah menilai Hamidah, mungkin mereka bisa salah juga menilai siapa Agus Tay yang sebenarnya? Mungkin mereka bisa salah juga  menilai siapa Margriet Megawe yang sebenarnya? Ingat jangan lakukan kesalahan lama, jangan menilai buku dari sampulnya. Jangan menilai orang dari luarnya saja. Tapi sungguh sangat disayangkan sampai sekarang tidak banyak publik yang mampu untuk berpikir sebijak itu, kebencian publik pada Margriet Megawe dan anak-anaknya sebegitu dalamnya sampai membutakan hati dan perasaan mereka, hal ini membuat mereka tidak mau dan tidak mampu utk berpikir secara rasional.

Saat putusan hakim diberikan, Hamidah yang ikut menghadiri persidangan rupanya belum sepenuhnya menyadari bahwa perannya sebagai ibu yang paling berhak menangisi dan merasa kehilangan Engeline sudah tidak diakui publik lagi. Saat dia ingin memerankan kembali  perannya sebagai ibu yang paling berduka dengan penuh penghayatan, publik yang sudah terlanjur kecewa justru menyambutnya dengan kecaman. Seorang Ibu kandung yang dulunya tidak merasa bersalah sama sekali ketika menukarkan bayinya yang masih merah dengan uang cash yang tidak seberapa, sekarang tiba-tiba merasa sewot dan kebakaran jenggot mendengar putusan seumur hidup yang diterima Margriet Megawe, seorang ibu yang membesarkan anak kandungnya mulai dari 3 hari, seorang wanita yang diyakini Hamidah telah membunuh anak kandungnya Engeline, hanya karena Hamidah terlanjur mempercayai semua fitnah-fitnah yang ada.

Baca juga :  Seluruh Pelanggar PPKM Darurat Bakal Ditindak Tegas

“Saya tidak puas dengan putusan hakim. Jika dia hanya diberikan hukuman penjara seumur hidup, lebih baik aku saja yang membunuhnya. Supaya dia juga tahu apa yang telah dirasakan anak saya.” mengutip kata-kata Hamidah …

Hamidah yang menuntut keadilan seperti melupakan dirinya (dan juga bekas suaminya) selama ini terbebas dari hukuman pidana telah menjual anak kandungnya pada orang lain (tidak penting alasan di balik itu). Hanya saja mereka berdua sangat beruntung, hukum di Indonesia yang berat sebelah dan masih mudah direkayasa dan berada di bawah tekanan publik, tidak memperkarakannya mungkin karena adanya campur tangan para politisi yang ingin dianggap sebagai pahlawan, pahlawan kesiangan,  terang-terangan membela Hamidah yang miskin sampai mereka rela merogoh dari kocek sendiri untuk membayar kuasa hukum Hamidah yang jumlahnya banyak itu. Begitulah modus operandi hukum di indonesia: histeris masa, histeris media dan histeris para politisi yang ingin menjadi pusat perhatian, sedangkan hukum dan keadilan itu sendiri itu sekedar nomor dua, bukanlah hal pokok.

Belajar dari kesalahan publik menilai siapa Hamidah sebenarnya, belum ada kata terlambat untuk publik menyadari bahwa penilaian mereka tentang Agus Tay yang mereka anggap sebagai pemuda miskin, bodoh dan lugu yang tidak mungkin membunuh Engeline, yang menyayangi Engeline sebagai adiknya sendiri, ADALAH SALAH??!! Untuk tidak mempercayai pengakuan Agus Tay sendiri bahwa dia telah menganiaya, memperkosa dan membunuh Engeline, ADALAH SALAH??!! Telah mengesampingkan kesesuaian hasil visum et repertum dengan adegan menghasilkan luka di 31 titik yang diambil dari BAP pertama Agus Tay yang dibenarkan oleh dr,Dudut Rusyadi saksi ahli kedokteran forensik dan telah diakui Agus Tay sebagai inisiatifnya sendiri, ADALAH SALAH??!! Telah mempercayai semua kesaksian Agus yang berubah-rubah sebagai kebenaran,  ADALAH SALAH??!! Telah menolak bukti video pemeriksaan, bahwa benar Agus Tay  tidak disiksa pada saat penyidikan di Polresta Denpasar, ADALAH SALAH??!! Telah mempercayai pengakuan Agus Tay yang mengatakan dia menyayangi Engeline seperti adiknya sendiri, tapi di saat lain mengaku telah menguburkan Engeline dan menutupi kematian bocah tersebut karena tergiur imbalan uang, ADALAH SALAH??!! Telah mempercayai keterangan Agus Tay, yang mengatakan bahwa penyidikan BAP-nya yang pertama tidak didampingi seorang kuasa hukum padahal pada kenyataannya pada BAPNya tersebut tercantum tanda tangan kuasa hukumnya, ADALAH SALAH??!!

Baca juga :  Polisi Sita Ribuan Petasan Dari Dua Warung Kelontong di Tangerang

Belajar dari kesalahan publik menilai siapa Hamidah yang sebenarnya, belum ada kata terlambat untuk publik menyadari bahwa penilaian mereka tentang Margriet Megawe sebagai ibu yang jahat, yang telah membunuh anak angkatnya Engeline dengan cara yang tragis untuk menguasai warisan peninggalan suaminya mendiang Douglas Scarborough, telah direncanakan dan sepengetahuan dua anaknya Yvonne dan Christine, ADALAH SALAH??!! Telah mempercayai bahwa Margriet Megawe telah membunuh anaknya dengan perencanaan yang matang tanpa adanya bukti yang sah dan menyakinkan dan hanya berdasarkan kesaksian Agus semata, ADALAH SALAH??!! Telah mengesampingkan bukti-bukti seperti struk belanja di Lotte Mart bahwa benar Engeline dan Margriet Megawe hari itu tidak seharian di rumah seperti keterangan Agus Tay, bahwa tidak benar hari itu Engeline tidak ke sekolah karena sakit akibat telinga dan hidungnya berdarah dipukuli mamanya, ADALAH SALAH??!! Telah mempercayai fitnah-fitnah seperti isu warisan yang akhirnya tidak terbukti, ADALAH SALAH??!! Telah mempercayai fitnah-fitnah bahwa Yvonne, Christina dan Andhika bersengkongkol membuang mayat Engeline dalam koper, ADALAH SALAH??!! Telah mempercayai fitnah-fitnah bahwa katanya Hilangnya Engeline tidak pernah dilaporkan polisi yang ternyata ada bukti laporan polisinya, bahwa anjing pelacak yang katanya tidak diperkenankan masuk ke perkarangan rumah Margriet Megawe tapi ternyata sesuai kesaksian polisi diperbolehkan masuk pekarangan rumah atas ijin yang bersangkutan dan celakanya lagi terkuak di persidangan yang meminta didatangkannya anjing pelacak itu adalah Margriet sendiri sejak hari pertama, Adalah SALAH??!!

“Sometimes people don’t want to hear the truth because they don’t want their illusions destroyed.” ― Friedrich Nietzsche

Publik sesungguhnya menyadari bahwa fakta-fakta persidangan yang terkuak dalam persidangan tidak satu pun yang mengarah pada Margriet Megawe sebagai pelaku pembunuhan anak angkatnya sendiri Engeline Megawe, apalagi pembunuhan berencana seperti yang di dakwakan dituntut dan diputus, karena tidak ada satu pun fakta di persidangan yang memperkuat argumen itu. Dan sebaliknya banyak fakta-fakta yang terkuak di dalam persidangan justru mengarah ke Agus Tay sebagai  pelaku tunggal pembunuhan Engeline,  salah satu di antaranya adalah pengakuan Agus Tay yang sangat fenomental untuk BAP sebagai tersangka Tunggal membunuh dan memperkosa ‘atas inisiatif saya sendiri” dan juga dari kejanggalan-kejanggalan cerita Agus Tay yang bertolak belakang  dengan alat bukti & barang bukti lainnya di persidangan. Bahkan masyarakat awam pun secara jelas bisa melihat, bahwa Margriet Megawe tidak terbukti secara sah dan menyakinkan telah melakukan pembunuhan berencana  pada anak angkatnya Engeline seperti yg di dakwakan (pasal 340 KUHP).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari BeritaMoneter.com. Mari bergabung di Channel Telegram "BeritaMoneter.com", caranya klik link https://t.me/beritamoneter, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca juga berita kami di:

Agus Eko

Adalah wartawan senior di Indonesia. Karya-karya jurnalisnya sangat menarik dan memberikan pandangan mendalam terhadap berbagai isu terkini.

Komentar


HI THERE!

Eu qui dicat praesent iracundia, fierent partiendo referrentur ne est, ius ea falli dolor copiosae. Usu atqui veniam ea, his oportere facilisis suscipiantur ei. Qui in meliore conceptam, nam esse option eu. Oratio voluptatibus ex vel.

Wawancara

BANNER

Berita Populer

Don't Miss

KIB Prioritaskan Airlangga, Pengamat: Sosok Berkinerja Cemerlang

Dalam tiap kali pertemuan, KIB menunjukkan kekompakan para ketum dan

Pemerintah Diminta Puasa Belanja Barang dan Jasa Setahun

Sistem sewa katanya menghemat APBN. Namun biaya sewa jangan di