Dampak Virus Corona, Hipmi Jaya Dorong Manfaatkan Peluang Ekspor

Caketum Hipmi Jaya Sona Maesana

JAKARTA–Ketua Umum Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jakarta Selatan, Sona Maesana menegaskan apabila nanti terpilih menjadi Ketum Hipmi Jaya akan tetap menjaga marwah Hipmi sebagai wadah untuk membentuk jiwa entrepreneur dan wirausaha muda.

“Saat ini, banyak anak muda memiliki semangat menjadi pengusaha setelah lulus kuliah. Untuk itu saya akan terus menjalankan program Hipmi untuk melahirkan wirausaha muda sebagai penggerak ekonomi nasional,” ungkap Sona usai mendaftarkan diri sebagai calon Ketum Hipmi DKI Jakarta Raya (Jaya) periode 2020-2023 di Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Lebih lanjut, CEO PT Satria Akasa Investama ini menambahkan Hipmi Jaya memiliki program pengembangan membina jiwa enterprenership yang menyasar para mahasiswa. Karena itu saat ada even-even penting, Hipmi hadir di universitas-universitas untuk memberikan pelatihan dan workshop, sharing experince, guna mendorong mahasiswa menjadi wirausahawan.

Selain itu, lanjut Sona, penting sekali membuat kompetisi bisnis bagi mahasiswa dimana para anggota Hipmi menjadi mentornya. “Kita dorong juga agar bisa mencari investornya,”ucapnya lagi

Baca :  Perangi COVID-19, KADIN Bersama Tzu Chi Galang Dana Rp500 Miliar

Bagi wirausahawan muda yang sudah tergabung dengan Hipmi, Sona mendorong para anggota lebih berkembang dalam berbagai aspek bisnis. Sehingga mereka bisa naik kelas dan mendapat jaringan lebih luas. Terlebih lagi profil para anggota Hipmi Jaya sebagian besar adalah usaha kecil menengah (UKM), star up yang bergerak di industri kreatif. “Kita juga dorong para pengusaha muda melakukan sertifikasi produk dan ekspor,” papar Sona.

Melihat peluang bisnis k
etika ditanya soal situasi ekonomi makro dalam negeri, Sona mengungkap seharusnya hal ini bisa memanfaatkan peluang ekspor yang ditinggalkan Tiongkok di sejumlah negara akibat merebaknya Virus Corona.

Selain itu, pengusaha muda juga bisa mengisi pasar dalam negeri yang selama ini dipenuhi produk Tiongkok.

Baca :  Bank DBS Indonesia Gandeng Komunitas Pengusaha Dorong Pertumbuhan UKM

“Situasi ekonomi makro Indonesia sangat dipengaruhi kondisi global. Karena kondisi ekonomi global mempengaruhi aktivitas ekspor dan impor. Hal ini sebenarnya peluang untuk meningkatkan produk dalam negeri yang berorientasi ekspor,” ujar Sona dengan semangat.

Begitu halnya di dalam negeri, pengusaha muda harus mampu mengisi produk Tiongkok yang saat ini dinilai mengalami aktivitas perlambatan. “Kita harus mengisi ruang-ruang itu,” kata pria lulusan S2 Coventry University, Inggris ini.

Sebelumnya Sona juga mengajak pengusaha muda bisa lebih inovatif di era industry 4.0, kemajuan teknologi membuat dunia terus berubah dengan cepat. Apalagi, saat ini seluruh dunia tengah menghadapi era industry 4.0 yang berarti semua pekerjaan akan bertransformasi menjadi digital.

“Perubahan besar ini merupakan tantangan besar bagi semua orang, terutama kalangan pengusaha agar mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan industri. Industry 4.0 sendiri terkait dengan digitalisasi usaha, atau disebut juga sebagai internet of things,” ungkapnya.

Baca :  Agar Bernilai Tambah, Perlu Teknologi Canggih Pengolahan Sawit

Sona, menyadari betul pentingnya dunia usaha dalam menghadapi revolusi industri 4.0 yang sedang dihadapi dunia. Meski begitu, tidak sepenuhnya dunia usaha harus menggeser usahanya menjadi serba digital.”Kita tidak boleh menutup mata, atau menutup pintu dengan adanya perkembangan teknologi. Justru menurut apapun usahanya, baik kecil maupun besar, sebenarnya bisa memanfaatkan atau mengadopsi teknologi yang ada,” kata Sona.

Perubahan secara digital ini bisa terlihat dari munculnya otomatisasi di setiap pabrik, keberadaan artificial intelligence yang sedang digandrungi banyak pengusaha. Alhasil, semuanya membutuhkan koneksi internet.

“Sebenarnya itu semua kan semata-mata untuk membuat perusahaan, khususnya di bidang usaha lebih efisien. Lebih efisiennya berarti usaha-usaha yang berbentuk pekerjan yang tadinya masih menggunakan sistem konvensional mungkin bisa di digitalisasi jadi lebih efisien dan bisa lebih cepat,” pungkas Sona.