Ekonom: BI Rate Idealnya 3,5%

Tuesday 24 Nov 2015, 6 : 25 pm
by
Ekonom Raden Pardede

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) sebenarnya memiliki ruang yang cukup untuk menurunkan suku bunga acuan atau BI rate yang saat ini berada di level 7,50%.

Koreksi terhadap suku bunga acuan ini bisa dilakukan, apalagi sejumlah data makro ekonomi domestik sudah mulai membaik.

Karena itu tingkat BI Rate seharusnya saat ini berada pada kisaran 2,5-3,5%.

“Laju inflasi relatif dapat dikendalikan. Kalau harga barang-barang tidak naik maka inflasi tahun depan bisa tetap di kisaran 4 persen. Jadi tren inflasi itu akan terus rendah tergantung dari kinerja pemerintah,” kata Ekonom senior Raden Pardede saat ditemui dalam acara DBS Asian Insights Conference 2015 di The Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Selasa (24/11).

Menurut Raden, dari indikator makro ekonomi sangat memungkinkan BI Rate dipatok rendah.

Hal ini guna mendukung kegiatan ekonomi nasional.

Sebab tingkat suku bunga yang tinggi dikhawatirkan akan menahan laju pertumbuhan ekonomi.

Padahal, pemerintah menargetkan ekonomi tumbuh sebesar 5,8 persen pada tahun ini.

Kendati tanggung jawab pengendalian inflasi ada pada BI, namun kata Raden, seharusnya pemerintah juga yang harus mengendalikan laju inflasi.

Karena, pengendalian pada komponen inflasi volatile food dan administered price merupakan bagian dari tugas pemerintah.

Dengan laju inflasi yang terkendali, idealnya BI Rate memang dipatok di angka rendah.

“Saya rasa idealnya dari real interest rate itu ada di 2,5-3,5 persen,” tandas Raden.

Meski begitu dia mengakui peluang bagi bank sentral Indonesia menurunkan suku bunga acuannya sangat kecil.

Pasalnya, dari ekonomi global, The Fed fun rate memberi sinyal kan dinaikan.

“Kalau BI rate diturunkan maka selisihnya akan semakin kecil yang memungkinkan semakin banyak capital outflow yang ke luar negeri,” ulasnya.

Dia tidak memungkiri kombinasi sikap The Fed dan BI dalam kebijakan moneternya itu akan memicu terciptanya capital outflow tersebut.

“Aliran dana akan bergerak ke AS, tetapi banyak juga negara-negara yang memberi stimulus moneter. Sehingga, ada dana yang juga beredar ke emerging market, karena recovery di AS juga belum optimal,” paparnya.

Karena itu, dia kembali memastikan, era suku bunga tinggi masih akan terjadi di 2016 nanti.

“Karen BI tidak mungkin akan melawan The Fed dengan menurunkan BI Rate, kalau Fed fund rate dinaikkan,” ucapnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, upaya mempertahankan BI Rate akan lebih baik bagi pertumbuhan ekonomi dan neraca transaksi berjalan, sehingga akan mampu menjaga stabilitas rupiah terhadap dollar AS.

“Jadi sekali lagi, BI Rate tidak akan naik sampai 2016,” imbuhnya.

Seperti diketahui, BI kembali menahan suku bunga acuan di level 7,50 persen selama 10 bulan berturut-turut.

Keputusan ini untuk mengantisipasi tekanan ekonomi global serta kemungkinan terburuk akibat kondisi ekonomi dunia yang belum stabil.

“BI Rate tetap, untuk menghadapi kondisi ekonomi dunia, tekanan daripada keuangan global dan kemungkinan risiko terburuknya,” jelas Gubernur BI Agus Martowardoto di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (17/11).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

Dirut BTN Maryono dan Menaker Hanif Dhakiri Hadiri Munas SP BTN

JAKARTA-Direktur Utama Bank BTN Maryono dan Direktur Bank BTN Yosi

Soal Gunung Agung, Fahri : Nasib Pengungsi Harus Dipikirkan Permanen

JAKARTA-Aktivitas Gunung Agung yang makin meningkat membuat Pemprov Bali terus