IPSN Yakin Omnibus Law Genjot FDI

JAKARTA-Menggenjot investasi besar-besar memang bukan pekerjaan mudah. Tantangan terbesar saat ini adalah membuat Undang-Undang yang ‘ramah’ terhadap investor asing.

“Secepatnya harus dibenahi. Karena itu, langkah yang akan dilakukan Presiden dengan membuat Omnibus UU itu harus segera diwujudkan,” kata Ketua Umum Ikatan Profesional Sinergi Nawacita (IPSN) Donny Imam Priambodo kepada wartawan di Jakarta, Jumat (15/11/2019).

Mantan anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Nasdem mengakui saat ini memang kondisi eksternal sedang tidak bersahabat. Karena itu,untuk menjaga ataupun menaikkan pertumbuhan ekonomi, kuncinya hanya ada dua, export dan FDI (Foreign Direct Investment).

Untuk menggenjot ekspor, lanjut Donny, opsi ini sepertinya tetap harus dilakukan. Namun mengingat kondisi negara negara tujuan ekspor yang sedang tidak bagus, maka tentu juga akan membuat ekspor Indonesia mendapatkan tantangan yang besar.

Baca :  Dua Industri Top Korsel Siap Gelontorkan Investasi di Indonesia

“Satu hal yang harus diupayakan adalah FDI, ini harus masuk besar-besaran untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan menjaga CAD (current account deficit) kita tidak bertambah terlalu dalam,” tambahnya.

Yang paling penting, sambungnya lagi, mencari upaya menggiring investasi tersebut ke Indonesia. “Tentu ada beberapa hal, diantaranya situasi politik kita harus stabil,”ucap Donny.

Lalu membenahi UU yang tidak ramah terhadap. Karena aturan ini sangat mempengaruhi para investor. Jadi langkah Presiden dengan membuat Omnibus UU itu harus segera diwujudkan.

“Yang tak kalah penting lagi, harus banyak duta-duta pemasaran Indonesia ke negara negara yang mempunya investor-investor besar supaya mau berinvestasi ke Indonesia,” imbuhnya.

Ditempat terpisah, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan neraca dagang Indonesia Oktober 2019 surplus US$ 161,3 juta. Namun, secara keseluruhan neraca dagang Indonesia dari Januari hingga Oktober masih defisit.

Baca :  Aplikasi OSS Permudah Investor Pariwisata Berinvestasi di Indonesia

Data menunjukkan pada 2019 neraca dagang Indonesia cenderung datar. Tak banyak perubahan signifikan dalam neraca dagang Indonesia di 2019.

“Pada tahun 2019 neraca perdagangan kita cenderung flat, kalau surplus ya kecil, kalau defisit juga kecil,” kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto di kantor BPS, Jakarta, Jumat (15/11/2019).

Menurut Suhariyanto, surplus neraca dagang pada Oktober 2019 ini terjadi bukan karena ekspor yang naik, tapi karena nilai impor yang turun. Hal ini yang dimaksud Suhariyanto neraca dagang Indonesia flat.

“Jadi pada Oktober ini ekspor kita US$ 19,93 miliar, impor 14,77 jadi surplus. Surplus tercipta bukan karena ekspornya naik, ekspor turun tapi impor kita turunnya juga lebih dalam. Surplus akan bagus kita ekspor naik tapi impornya turun,” jelasnya.

Baca :  DPR Harapkan MA Berikan Perlindungan Hukum Terhadap Investasi

Bila dilihat secara year to date (ytd) atau dari Januari hingga Oktober 2019, neraca dagang Indonesia masih tercatat defisit. Sepanjang tahun 2019, neraca dagang Indonesia masih lebih banyak defisit dibanding surplus.
“Neraca perdagangan Januari-Oktober 2019 kita masih mengalami defisit US$ 1,79 miliar,” tuturnya.

Neraca perdagangan RI selama 2019

Januari: defisit US$ 1,16 miliar
Februari: surplus US$ 330 juta
Maret: surplus US$ 540 juta
April: defisit US$ 2,5 miliar
Mei: surplus US$ 210 juta
Juni: surplus US$ 200 juta
Juli: defisit US$ 60 juta
Agustus: surplus US$ 85 juta
September: defisit US$ 160 juta
Oktober: surplus US$ 161,3 juta