Masyarakat Bandung Didorong Awali Bangun Kembali Toleransi dan Pluralisme

Sunday 3 Mar 2019, 12 : 17 pm
by

BANDUNG – Masyarakat Bandung didorong untuk mengawali membangun kembali budaya toleransi dan pluralisme di wilayah Jawa Barat.

Langkah ini untuk mengembalikan semangat nasionalisme dan patriotisme seperti makna dalam lagu “Halo-Halo Bandung”.

Selain menunjukkan semangat nasionalisme, lagu karya Ismail Marzuki sebelum kemerdekaan RI ini menunjukkan semangat patriotisme (cinta tanah air) dan toleransi yang luar biasa dari masyarakat Bandung pada waktu itu.

Demikian ditegaskan oleh Alumnus Lemhannas PPSA XXI, AM Putut Prabantoro, yang juga Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) dalam seminar bertajuk “Melalui Komsos Kita Pelihara Kemanunggalan TNI Dengan Rakyat Guna Meningkatkan Semangat Bela Negara”, di Bandung, Jumat (01/03/2019).

Seminar ini dihadiri Kasgartap I / Jakarta Brigjen TNI Herianto Syahputra dan Kasgartap II / Bandung Marsma TNI Embu Agapitus.

Dalam seminar ini hadir juga sebagai pembicara Mayor CZI Asep Sugiarto Dari Kogartap II/Bandung, Ir. Veronika Etty Sriwidayanti MM dari Diperindag Provinsi Jabar, AKBP Dr. Rusman SH, MH dari Polda Jabar dan Kolonel Dr. Drs. Bastari R., M.Pd., M.Si., M.Sc (dosen UNHAN) sebagai moderator.

Putut Prabantoro dalam paparannya yang berjudul “Mari Bung Rebut Kembali”, menjelaskan bahwa lagu “Halo Bandung” itu memiliki semangat nasionalisme, pluralisme, toleransi dan sekaligus patriotisme.

Lagu yang ditulis Ismail Marzuki dalam bahasa Sunda pada awalnya dapat menjadi pengingat dan sekaligus penyemangat masyarakat Bandung dalam menumbuhkan kembali patriotisme dan nasionalisme masyarakat Pasundan atau Jawa Barat.

“Lagu Sunda ini kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dalam masa pendudukan Jepang dengan maksud untuk mengikis pengaruh budaya Belanda. Dan ketika Belanda ingin menguasai Bandung kembali setelah kemerdekaan, lagu tersebut digunakan untuk membangkitkan semangat perjuangan. Dan, dari lagu ini kita bisa melihat spirit yang adalah dalam lagu itu yakni spirit nasionalisme, pluralisme, toleransi dan juga tidak lupa dengan sejarah,” tegas Putut Prabantoro.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

MenKopUKM Ajak Perajin Tempe Kreatif Manfaatkan Kacang Koro Sebagai Bahan Baku

BOGOR-Gejolak kebutuhan dan harga kacang kedelai, di prediksi akan terus

Jatmi: “Vaksin Rohani” Bisa Hadapi Covid-19 dan Resesi Ekonomi

JAKARTA-Pandemi Covid-19 yang terus meluas belum bisa dicegah dengan obat-obatan.