Penjualan Keramik Ditargetkan Rp 36 Triliun

JAKARTA-Industri keramik di Indonesia dinilai punya keunggulan karena bahan baku melimpah dan ketersediaan bahan bakar gas. Hal itu mendorong pemerintah menargetkan peningkatan produksi dan penjualan keramik yang memberikan kontribusi bagi pertumbuhan perekonomian nasional.

Hal itu diungkapkan oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin ketika meresmikan pembukaan Pameran Keramika 2015 di Jakarta, Kamis (19/3).

Menperin juga mendorong pelaku industri meningkatkan kualitas maupun desainnya guna merebut pangsa pasar dalam negeri maupun manca negara. “Tahun lalu, nilai penjualan industri keramik mencapai Rp 30 triliun dan diproyeksikan naik 20 persen pada tahun 2015 atau mencapai Rp 36 triliun,” katanya.

Sepanjang 2014, industri keramik Indonesia memiliki kapasitas 1,8 juta m2/hari dan produksi 1,6 juta m2/hari. Hasil produksi 87 persen diserap pasar lokal dan 13 persen di ekspor. Saat ini produsen keramik lantai dan dinding berjumlah 35 perusahaan dengan jumlah pabrik 95 unit.

Baca :  Industri 4.0 Buka Peluang Indonesia Jadi Ekosistem Bisnis IoT Senilai Rp 444 Triliun

Secara keseluruhan industri keramik mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 200.000 orang. “Industri keramik di Indonesia telah berkembang dengan baik selama lebih dari 30 tahun dan merupakan salah satu industri unggulan,” ujarnya.

Menteri Saleh Husin juga mencermati pemasaran ke luar negeri yang mesti dipacu. Untuk itu, dia mendorong industri keramik meningkatkan kapasitas dan daya saing sehingga diharapkan dapat mengisi pasar ekspor, karena sektor tersebut telah mampu memenuhi kebutuhan di dalam negeri. “Industri keramik nasional kita unggul dibandingkan negara lain, karena tersedia deposit tambang sebagai bahan baku keramik yang cukup besar dan tersebar di berbagai daerah seperti ball clay, feldspar dan zircon, maupun ketersediaan energi gas yang melimpah sebagai bahan bakar proses produksi,” katanya.

Menperin meyakini prospek industri keramik nasional dalam jangka panjang masih cukup besar seiring dengan pertumbuhan pasar dalam negeri yang terus meningkat, terutama untuk jenis tile/ubin karena didorong pertumbuhan properti dan perumahan.

Baca :  Belanda Bantu Indonesia Tingkatkan Daya Saing IKM

Apalagi, konsumsi keramik perkapita yang masih rendah sekitar 1 m2 dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya sudah di atas 2 m2. “Dengan jumlah penduduk 250 juta serta prospek pembangunan properti dan konstruksi menandakan akan terbukanya peluang pasar yang perlu dimanfaatkan,” harapnya.

Langkah Strategis

Menperin Saleh Husin juga menegaskan, pemerintah terus melakukan berbagai strategi kebijakan dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi pengembangan industri keramik. Antara lain mendorong terjaminnya kontinuitas pasokan gas dengan harga yang kompetitif, penguasaan teknologi dan fabrikasi, serta meningkatkan promosi ke pasar ekspor. “Perlu juga disusun standar kompetensi untuk SDM industri keramik serta melakukan pelatihan dengan mengundang para ahli di bidang keramik dari dalam maupun luar negeri,” tegas Menperin.

Baca :  Pengembangan IKM untuk Memperkuat Industri Nasional

Khusus untuk menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun 2015 dan globalisasi, daya saing industri keramik nasional harus diperkuat dengan pengembangan kemampuan SDM di bidang desain dan rekayasa produk. Langkah strategis lainnya yaitu meningkatkan program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Neger (P3DN) serta pengawasan pelaksanaan SNI wajib bagi keramik yang beredar di pasar dalam negeri.

Di sisi lain, Menperin juga berharap Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI) selaku penyelenggara Pameran Keramika 2015 dapat mempromosikan produk keramik dalam negeri di tingkat nasional maupun internasional.

Serta mampu membawa industri keramik nasional bersaing di pasar global dengan produknya yang berkualitas dan inovatif. Pameran tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana pertukaran informasi dan transaksi bisnis antara pengusaha dengan pengguna produk keramik.