Ahok Peduli Islam, Masjid dan Pondok Pesantren Dibangunnya di Beltim

132
Ahok bersama kakak angkatnya yang muslim, Andi Analta

JAKARTA-Perhatian Basuki Tjahaja Purnama terhadap umat beragama Islam sangat tinggi. Selain membangun masjid serta memberangkatkan umroh dan haji beberapa pengurus masjid, Ahok juga mendirikan Pondok Pesantren di Desa Gunung, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur (Beltim). Karena itu, sangat tidak masuk akal sehat jika Ahok dituduh menista agama Islam. “Saya tahu dia (Ahok) sejak kecil hingga pada akhirnya saya bekerja dengannya sebagai sopir. Jadi, dia tidak mungkin menodai agama Islam. Apalagi, dia tumbuh dan besar dilingkungan muslim,” ujar sopir pribadi Ahok, Suyanto di Jakarta, Rabu (15/3).

Menurut Suyanto, relasi Basuki dengan umat Muslim di Belitung Timur sangat baik. Toleransinya terhadap agama Islam sangat tinggi.

Bahkan, dia sangat menghormati agam Islam. Apalagi di Kecamatan Gantung Kabupaten Belitung Timur itu 93% lebih penduduknya beragama Islam. “Saya tidak pernah mendengar, dia mengeluarkan pernyataan yang menyinggung perasaan umat Islam,” tuturnya.

Suyanto menceritrakan Ahok sangat peduli dengan Islam. Perhatian Ahok terhadap umat Islam sangat tinggi. Hal ini diperlihatkannya yang selalu membantu kegiatan umat Islam.
Intinya terang Suyanto, umat Islam paling diutamakan oleh Ahok. Diantaranya, membangun masjid dan pondok pesantren.

Ahok bahkan memberikan tanah negara 20 hektar untuk mendirikan pesantren di Desa Gunung, Kecamatan Manggar, Kabupaten Beltim. Namun pesantren itupun tidak dikuasainya, tetapi diserahkan kepada kiai di Beltim.
Oleh karenanya, Suyanto  tidak yakin Ahok berniat menistakan agama Islam. “Ahok memberangkat haji serta umroh bagi beberapa orang. Yang saya ingat, sejak menjadi Bupati di Beltim, ada sejumlah orang yang diberangkatkan haji seperti Haji Agung, Haji Jahani dll. Saya masih menyimpan suratnya yang ditandatangani Basuki,” tuturnya.

Selain itu, bentuk kepedulian Ahok terhadap Islam ditunjukkannya dengan mengingatkan waktu sholat Jumat. “Bahkan suatu hari waktu saya bawa mobil bersama Basuki, pas sholat Jumat, dia mengingatkan saya untuk sembahyang. Namun saya menjawabnya belum siap untuk sholat. Saya lewat saja. Dan saya pasti mendapat teguran dari Basuki kalau lalai menjalankan sholat Jumat,” kenang Suyanto.

Dia mengaku, kegiatan Basuki ini sangat positif. Hal ini terlihat tidak adanya penolakan dari masyarakat. Karenaya, tak heran, jika masyarakat sangat mendukung apa yang dilakukan Basuki. “Masyarakat keturunan disana cuman 1,2% dan selebihnya beragama Islam. Dan semua mendukung Ahok,” imbuhnya.
Suyanto mengaku politisasi Al Maidah 51 ini bukan hanya terjadi di Pilkada DKI Jakarta. Pada waktu pilgub Bangka Belitung 2007 lalu, isu Al Maidah 51 ini menyerang Basuki.

“Memang, surat Al Maidah ini dipakai oleh lawan politik pak Basuki sejak menjadi calon bupati hingga maju menjadi calon gubernur Propinsi Bangka Belitung. Ada oknum yang mengedarkan surat Al Maidah 51 ini, baik dipersimpangan jalan, masjid dan rumah,” terangnya.

Saat pilgub Babel 2007 lalu, Basuki berpasangan dengan Eko Tjahyono. Namun keduanya gagal menjadi orang nomor satu di Propinsi Babel. Sementara itu, Eko Tjahyono yang dihadirkan sebagau saksi pada persidangan ke-13 menyebutkan selama pilkada di Belitung pada tahun 2007 tersebut, ada pihak-pihak yang menggunakan ayat suci surat Al-Maidah untuk tidak memilih pemimpin yang yang bukan beragama Islam.

“Saya tidak tahu siapa yang menggunakan ayat suci Alquran tersebut, tetapi dalam bentuk selebaran-selebaran yang dibagikan kepada masyarakat, dan saya juga mengalami dan mendengar sendiri dalam khotbah Jumat yang mengajak untuk tidak memilih pemimpin non-muslim. Dan yang paling yang digunakan adalah surat Al-Maidah ayat 51,” pungkasnya.