BI Harus Awasi Pergerakan Mata Uang Asing

132

JAKARTA-Bank Indonesia (BI) harus melakukan pengawasan yang lebih dalam terkait kondisi likuiditas dan pergerakan mata uang asing di Indonesia. Kenaikan yang cukup tajam atas loan-to-deposit ratio (LDR) telah memunculkan kekhawatiran akan adanya overheating.  “Dengan penunjukkan Menteri Keuangan Agus Martowardojo sebagai Gubernur Bank Indonesia yang baru, The Royal  Bank of Scotland (RBS) melihat transisi ini tidak akan banyak memberikan dampak pada manajemen kebijakan moneter. Sentimen yang tampak dari investor secara umum positif sejak Agus Martowardojo dinominasikan atas jabatan tersebut. Akan tetapi, ada kebutuhan mata uang asing harus tetap diwaspadai,” ujar Ekonom RBS  untuk Asia Tenggara, Enrico Tanuwidjaja di Jakarta, Kamis (18/4.

Menurut Enrico, peningkatan LDR belum terlalu mengkhawatirkan karena masih sesuai regulasi untuk menjaga supaya LDR tidak jatuh di bawah 78%. Walaupun kebijakan ini dapat memberikan dampak kepada kualitas kredit dan memunculkan kekhawatiran investor, Erico percaya bank-bank di tanah air memiliki kecukupan modal yang baik. Non-performing loans (NPL) masih dalam kondisi baik  dan bank-bank memiliki hampir 80% pembiayaan yang didapat dari kenaikan simpanan. “Hal ini dapat menepis kekhawatiran atas overheating.,” urai dia.

Bank-bank di Indonesia telah melaporkan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratios / CAR) yang jauh di atas angka minimum yakni 8%, dengan aturan baru yang mengharuskan tingkat CAR ditetapkan sampai 14%, sementara NPL berada di angka 2%.

Meski demikian, RBS menyebutkan bahwa BI  perlu memperketat kondisi likuiditas domestik dengan menaikkan tingkat FASBI. Tujuannya untuk menghindari risiko kenaikan inflasi yang tidak terkendali, sehingga tingkat FASBI tidak naik mendahului kebijakan yang ditetapkan BI pada akhir kuartal tahun ini. BI rate akan berada di angka 5,75%.  “Ketertarikan asing atas saham dan obligasi di Indonesia masih dalam kondisi sehat, dengan kondisi pasar ekuitas naik lebih dari 13% (dalam USD) dan kepemilikan asing atas obligasi di Indonesia sekitar 32%. Oleh karena itu, ada sedikit kemungkinan tekanan pelemahan atas Rupiah sampai akhir semester pertama 2013. Namun, perkembangan positif ekonomi Indonesia akan membuka jalan bagi Rupiah untuk menguat menuju 9500 pada akhir 2013,” ungkap Enrico.