Paket Deregulasi Ekonomi Dapat Apresiasi Banyak Negara

29
Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Iman Pambagyo

JAKARTA-Paket deregulasi ekonomi pemerintah Indonesia mendapat apresiasi positif dari banyak negara. Pujian ini menambah kepercayaan masyarakat dunia pada Indonesia. Sejumlah negara bahkan mulai menaikkan tingkat kerja sama perdagangan dan investasi dengan membuka kantor perwakilan di Indonesia.  “Beberapa negara mitra menyampaikan informasi akan membuka perwakilan dagang dan investasi di Indonesia untuk memfasilitasi peningkatan hubungan dagang dan investasi kedua negara,” tegas Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Iman Pambagyo Selasa (9/8).

Pertemuan Para Menteri ASEAN ke-48 di Vientiane, Laos, 3-6 Agustus 2016 lalu, kata Iman, juga dimanfaatkan untuk melakukan pertemuan bilateral dengan beberapa mitra dagang seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Hong Kong. Respon positif juga datang dari Lembaga Riset Internasional seperti The Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) yang berperan penting terhadap penguatan kapasitas intelektual di kawasan Asia Timur dan anggota ASEAN.

Pertemuan membahas kemitraan strategis, peningkatan peluang akses pasar, investasi, perdagangan, serta pengembangan industri dan teknologi.

Menurutnya, hasil pertemuan sangat positif. Paket deregulasi ekonomi mendapat pujian. Berbagai hambatan dalam perdagangan dan investasi sudah tak ada lagi. “Banyak negara mangapresiasi paket deregulasi ekonomi yang dilakukan Indonesia,” kata Iman.

Selain itu, pergantian kabinet baru-baru ini dipandang positif bagi proses reformasi ekonomi di Indonesia. “Tingkat kepercayaan dunia usaha juga semakin meningkat sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, kinerja perdagangan, dan investasi bagi Indonesia,” kata Iman.

Beberapa pihak juga mengapresiasi langkah Indonesia memperbanyak kerja sama perdagangan bebas dengan dengan mitra dagang, seperti Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA), Indonesia European Free Trade Association-Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA), dan Indonesia European Union-Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Bahkan niat Indonesia untuk bergabung dalam Kemitraan Trans-Pasifik (Trans-Pacific Partnership/TPP) menjadi langkah nyata Pemerintah untuk merespon tuntutan dan tantangan global yang diwarnai datangnya era ekonomi digital dan global value chain (GVC).

Iman menjelaskan bahwa Indonesia dianggap penting bagi negara mitra dagang. Banyak potensi yang dapat digali lebih optimal dengan semakin meningkatnya peranan ASEAN dalam memberikan kontribusi yang signifikan dalam pertumbuhan perekonomian global.

Indonesia saat ini tidak hanya fokus pada isu kelapa sawit, namun juga isu-isu yang terkait dengan kepentingan akses pasar untuk sumber daya alam seperti kakao, kelapa, dan kopi yang berorientasi pada nilai tambah. Selain itu, isu-isu standardisasi dan rekognisi juga menjadi prioritas dalam meningkatkan akses pasar Indonesia ke negara tujuan ekspor.

Pada pertemuan dengan ERIA, kedua belah pihak membahas kerja sama untuk meningkatkan kapasitas anggota ASEAN dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) melalui penyelenggaraan program specific project strategy.

Program tersebut memfokuskan pada komponen perdagangan di bidang jasa (Goods-Services-Investment-Competition Policy) secara komprehensif. “Ke depan, sektor perdagangan di bidang jasa akan memainkan peran penting dalam perekonomian global,” terangnya.

Pertemuan guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional juga dilakukan dengan kalangan dunia usaha seperti Coca Cola, UPS, Philip Morris, Pay Pal, Sea Gate, Medtronics, Ford, dan General Motors.