JSMR Raup Rp566 Miliar Dari Penerbitan Commercial Paper

Ilustrasi

JAKARTA-PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) mengumumkan, perseroan mampu meraup dana sebesar Rp566 miliar dari penerbitan surat berharga komersial (commercial paper) yang sebelumnya ditargetkan sekitar Rp500 miliar-Rp1 triliun.

Menurut Corporate Finance Group Head JSMR, Eka Setya Adrianto, surat berharga tersebut merupakan instrumen pasar uang untuk korporasi nonbank berbentuk surat sanggup (promissory note) dan berjangka waktu sampai satu tahun yang terdaftar di Bank Indonesia (BI).

Dia menyebutkan, dana senilai Rp566 miliar itu akan digunakan untuk modal kerja dan belanja modal JSMR.

“Dana yang diterima hari ini dapat memenuhi kebutuhan working capital Jasa Marga. Pada prinsipnya akan digunakan untuk modal kerja, belanja modal serta kebutuhan perusahaan lainnya,” kata Adrianto di Jakarta, Rabu (14/10).

Baca :  9 Ruas Jalan Tol Akan Rampung Hingga Akhir Tahun 2019

Dia mengungkapkan, penggalangan dana yang dilakukan dengan menerbitkan commercial paper diharapkan bisa tetap menjaga cash flow jangka pendek, karena pembayaran bunga pada instrumen surat berharga komersial dilakukan secara discounted sebesar 6,8 persen.

Surat Berharga Komersial I JSMR Tahun 2020 memiliki tingkat bunga yang sangat kompetitif, lantaran dasar suku bunga yang digunakan adalah Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR)+ (85-160 bps).

Saat ini JIBOR sebesar 4,7 persen per tahun. Commercial paper JSMR ini memiliki waktu jatuh tempo selama 12 bulan dan sudah mendapat peringkat idA1+ dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Lebih lanjut Adrianto mengungkapkan, commercial paper bisa digunakan sebagai bridging financing sebelum JSMR mendapatkan pendanaan jangka panjang.

Baca :  Pemerintah Tawarkan Investasi 5 Proyek Pengembangan Jalan Senilai Rp 57,18 Triliun

“Tentu saja ke depannya, kami tetap membuka peluang untuk menerbitkan produk lain dari capital market atau pasar uang sebagai alternatif sumber pendanaan untuk perusahaan,” tuturnya.

Dia menambahkan, JSMR konsisten menggalang dana dari pasar modal, seperti pada September lalu perseroan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan II Tahap I-2020 senilai Rp2 triliun dan mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) atau mencapai Rp2,7 triliun.