Nilai Investasi Industri Makanan dan Minuman Meningkat

Wednesday 29 May 2013, 9 : 17 am
by

JAKARTA-Pertumbuhan industri non-migas pada triwulan I tahun 2013 mencapai 6,69%. Industri makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap total PDB sekitar 6,96% dan terhadap total industri non-migas sebesar 33,79%,jika dibandingkan dengan sektor industri lainnya pada triwulan I tahun 2013. Sedangkan, terhadap penerimaan devisa sektor industri non-migas melalui investasi, industri makanan dan minuman juga mampu memberikan kontribusi yang signifikan. Pada tahun 2012, nilai investasi industri ini sebesar Rp. 63,65 triliun atau meningkat bila dibandingkan dengan nilai investasi pada tahun 2011 yang mencapai Rp. 60,53 trilyun. Peningkatan tersebut didukung oleh program hilirisasi industri agro yang disambut baik oleh banyak investor dalam dan luar negeri.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat dalam sambutannya yang dibacakan oleh Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Euis Saedah saat membuka Pameran Produk Industri Makanan dan Minuman di Plasa Pameran Industri, Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa, (28/5).

Dirjen IKM mengatakan, program hilirisasi industri agro yang dicanangkan oleh Kementerian Perindustrian telah mencapai hasil-hasil yang cukup baik, antara lain: Pertama, utilisasi kapasitas industri minyak goreng kelapa sawit yang meningkat dari 45% pada tahun 2010 menjadi lebih dari 70% pada tahun 2012. Selain itu, pergeseran tren ekspor yang awalnya didominasi oleh CPO, berubah menjadi ekspor produk hilir yang bernilai tambah tinggi seperti oleo food dan oleo chemical. Investasi di industri hilir kelapa sawit lebih dari Rp. 18 triliun sehingga tren penggunaan CPO sebagai bahan mentah semakin meningkat.

Kedua, peningkatan kapasitas produksi industri kakao dari 560 ribu ton (utilisasi 44,6%) pada tahun 2011 menjadi 660 ribu ton (utilisasi 66%) pada tahun 2012. Sejalan dengan peningkatan tersebut, jumlah tenaga kerja yang terserap pada sektor industri ini juga semakin meningkat menjadi 4.300 orang. Adanya investasi industri kakao baru yaitu Guan Chong Cocoa, PT Cargill Indonesia, JB Cocoa dan Barry-Comextra dengan total investasi lebih dari USD 279 juta, dapat juga menambah kapasitas produksi sebesar 307 ribu ton per tahun. Ketiga, program revitalisasi industri gula menghasilkan peningkatan kapasitas giling, produksi riil, mutu gula, rendemen dan overall recovery.

Sementara itu, untuk mencapai sasaran Millennium Development Goals (MDGs) terutama kaitannya dalam menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, Pemerintah telah melaksanakan langkah-langkah penting dalam pemenuhan gizi masyarakat diantaranya adalah pemberlakuan secara wajib SNI Tepung Terigu sebagai bahan makanan melalui Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor 35 Tahun 2011 Tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Tepung Terigu Sebagai Bahan Makanan Secara Wajib. “Dengan adanya peraturan tersebut, maka tepung terigu yang dipasarkan di Indonesia wajib ditambahkan zat besi, vitamin B1, vitamin B2 dan asam folat sebagai fortifikan. Fortifikasi tepung terigu dengan zat besi dapat mencegah secara signifikan pelemahan mental yang sering terjadi di kalangan anak-anak muda yang tidak mengkonsumsi zat besi yang cukup,”  katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

Kemenaker Ajak Huawei Dorong Kompetensi Lulusan SMK

JAKARTA–Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menggandeng perusahaan penyedia teknologi dan informasi Huawei

Menkes: Pemerintah Tidak Terbitkan PP Aborsi

JAKARTA-Menteri Kesehatan (Menkes)  Nafsiah Mboi membantah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP)