Satgas Covid-19: Vaksinasi Adalah Cara Utama untuk Keluar dari Pandemi Korona

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Reisa Broto Asmoro

JAKARTA-Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Reisa Broto Asmoro menyebutkan bahwa kegiatan pemberian vaksinasi merupakan langkah utama untuk keluar dari kondisi pandemi virus korona, lantaran vaksin mampu menciptakan antibodi dan meningkatkan imun tubuh untuk menyerang virus.

Dia menegaskan, tubuh yang menerima asupan vaksin akan lebih kebal terhadap pemyakit tertentu.

“Jadi, hal ini yang menyebabkan mengapa vaksin menjadi cara utama agar kita bisa segera keluar dari kondisi pandemi,” ujar Reisa saat diskusi bertajuk “Vaksin: Menjawab Mitos dan Menolak Hoax” seperti dikutip dari kanal YouTube Forum Merdeka Barat 9 (FMB9), Jakarta, Jumat (9/10).

Menurut Reisa, pada dasarnya tubuh manusia membutuhkan vaksinasi dan imunisasi yang akan menjadi benteng efektif dalam pencegahan penyakit atau sebagai upaya untuk menghindari risiko terpapar virus.

“Proses herd immunity (kekebalam kelompok) tidak hanya melindungi orang yang sudah menerima imunisasi, tetapi juga melindungi orang yang tidak bisa divaksin,” tuturnya.

Baca :  BI Siapkan Uang Tunai Rp158 Triliun Periode Ramadan/Idulfitri 1441 H

Lebih lanjut Reisa mengatakan, vaksin yang sudah masuk ke dalam sel-sel tubuh akan menyerang virus dan bakteri.

“Makanya, vaksinasi itu penting sekali, supaya kekebalan tubuh kita siap untuk melawan dan mengalahkan virus dan bakteri,” ucap Reisa.

Dia menyatakan, pembuatan vaksin Covid-19 di Indonesia sedang dilakukan oleh PT Bio Farma dan Sinovac yang sudah memasuki fase ketiga.

Jika hasilnya sesuai harapan dan aman, maka diharapkan vaksin ini bisa disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan MakananĀ  (Badan POM) pada awal 2021.

Reisa berharap agar masyarakat tidak meragukan dan mengkhawatirkan untuk menerima asupan vaksin ke dalam tubuh, lantaran proses pembuatannya sudah melalui tahapan yang ketat dan panjang.

Baca :  Uang Beredar Juni 2020 Mencapai Rp6.393,7 Triliun

“Tidak usah khawatir lagi dengan efek samping berupa penyakit yang tidak ada hubungannya dengan vaksinasi atau imunisasi,” imbuhnya.

Dia mengungkapkan, mitos terkait pemberian vaksin yang menyebabkan autis adalah tidak benar. Karena, jurnal hasil penelitian yang menyebutkan bahwa vaksinasi bisa menyebabkan autisme sudah ditarik dan penelitinya pun sudah diberi sanksi pada 2010.

Pada kesempatan yang sama, Staf Ahli Menteri Bidang Hukum Kementerian Komuniksai dan Informatika, Henri Subiakto berharap agar masyarakat bisa menyaring informasi di media sosial, terkait vaksin Covid-19. Karena, banyaknya berita hoaks di masa pendemi menjadi persoalan serius bagi pemerintah.

Menurut Henri, sebelumnya WHO telah mengatakan bahwa yang dihadapi dunia saat ini tidak hanya pandemi, namun ada banyak berita bohong.

Baca :  Dua Pasien Covid-19 di Tangsel Sembuh

“Banyak berkembang berita hoaks saat pandemi. Informasi seputar pandemi ada yang menyelewengkan. Untuk itu, masyarakat diminta bijak dalam menyikapi berita yang berkembang mengenai Covid-19 maupun vaksin,” paparnya.

Henri menegaskan, vaksin merupakan solusi paling utama untuk mengakhiri kondisi pandemi Covid-19.

“Untuk memutus pandemi ini, tentu salah satunya dengan keberadaan vaksin. Kami meminta agar masyarakat tidak membuat atau menyebarkan berita hoaks terkait vaksin, karena adanya vaksin tentu untuk kebaikan bersama menghilangkan virus korona,” ujarnya.

Selain itu, Henri berharap, penyampaian informasi terkait vaksin Covid-19 harus menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, agar bisa menghindari kesalahan informasi.

“Masyarakat akan lebih mudah memahami informasi, jika menggunakan bahasa yang mudah dan sesuai pemahaman. Penggunaan bahasa yang tinggi, akan membuat mereka sulit memahami,” katanya.