Siasati Latte Factor, Kebiasaan Belanja ‘Receh’ yang Bikin Boros

sequis
Chief Agency Officer Sequis Franky Nayoan

JAKARTA-Pernah dengar istilah latte factor? David Bach, penulis buku Finish Rich sekaligus motivator keuangan di Amerika Serikat mencetuskan istilah latte factor, yaitu kebiasaan kecil tetapi rutin menghabiskan penghasilan. Istilah latte ini sebenarnya dimaksudkan untuk mengkritik kebiasaan masyarakat kota besar yang kerap menghabiskan waktu dan uang untuk menyeruput kopi di kafe atau restoran.

Istilah Latte factor sebenarnya tidak hanya soal ngafe atau minum kopi saja tetapi relevan juga untuk pengeluaran kecil lainnya, seperti beli air mineral kemasan, persediaan camilan, belanja online, nonton bioskop. Setiap orang memiliki latte factor dan jenisnya bisa berbeda. Apa saja latte factor mu?

Setelah mengetahui apa saja pengeluaran latte factor, selanjutnya adalah berapa banyak uang yang telah kita keluarkan untuk latte factor ini. Biasanya, tidak terlalu dipikirkan karena hanya hitungan receh. Apalagi, kalau penghasilan cukup besar dan belum punya tanggungan. Tetapi, jika kebiasaan ini dibiarkan, tanpa disadari total pengeluaran bisa sangat besar.

Baca :  OJK Batasi Kegiatan Usaha PT Bahtera Mitra Jasa

Menjawab penasaran mengenai pengeluaran latte factor, kita menghitungnya dengan cara sederhana. Anggap saja kopi kekinian yang termurah harganya Rp18.000,00. Karena ukuranya kecil rasanya perlu beli lagi untuk minum sore. Berarti, sudah Rp36.000,00 keluar dari kocekmu. Barista kadang menawarkan extra shot hanya Rp5.000,00 saja. Jumlah uang yang dikeluarkan sudah Rp41.000,00. Masih angka yang kecil ya? Kalau begitu,kita beli camilan sore sebagai teman minum kopi.