Sulit, Harapkan Rupiah Balik ke Rp9.000

Wednesday 18 Sep 2013, 9 : 25 pm

JAKARTA–Ada kecenderungan nilai tukar rupiah mulai menguat. Namun penguatan itu dirasakan tak bisa kembali ke  level Rp9.000-an per USD. Kemungkinan nilai rupiah akan berada di ekuilibrium baru. “Rupiah kita menguat. Tapi jangan mengharap kembali ke Rp9.000, karena akan ada ekuilibrium baru,” kata Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta di Jakarta, Rabu (18/9).

Menurut Hatta, aspek penguatan rupiah bisa terdeteksi dari aksi di pasar non-delivery forward (NDF). “Intinya membaik, cukup bagus respons positif dari forward itu sendiri yang semakin mengecil menunjukkan orang tidak berekspektasi lagi rupiah kita akan melemah,” ujarnya

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada penutupan perdagangan hari ini. Dalam pergerakannya, terpantau memang Rupiah sempat kembali ke level penutupan sebelumnya di Rp11.182 per USD.

Melansir Reuters, Rabu (18/9/2013), pada perdagangan NDF Rupiah merosot 142 poin atau 1,27 persen menjadi Rp11.324 per USD. Dalam pergerakannya, Rupiah sempat menyentuh level tertinggi Rp11.517 per USD, dan level terendahnya Rp11.149 per USD. Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) melemah ke Rp11.492 per USD. Dengan pergerakan hariannya di Rp11.435-Rp11.549 per USD.

Perhatian investor, nampaknya masih tertuju pada Federal Open Market Comittee (FOMC) Bank Sentral AS, the Federal Reserve yang akan dilakukan hari ini. Dalam pertemuan tersebut, The Fed akan memutuskan langkah selanjutnya terkait stimulus fiskal.

Para analis memperkirakan, untuk awalnya, The Fed akan memangkas stimulus pembelian obligasi sebesar USD10 miliar, menjadi USD75 miliar dari sebelumnya USD85 miliar per bulan. **can

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

Eksplorasi Panas Bumi Waesano Berdampak Positif Bagi Kesejahteraan

JAKARTA-Kelompok Diaspora Manggarai Raya, Nusa Tenggara Timur (NTT) mendukung rencana

Revisi UU Perbankan Belum Diperlukan

JAKARTA-Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan menegaskan Revisi Undang-undang Perbankan